
Jadi Orang Sakti
Silahkan kamu sebut dirimu hebat / sakti dan ndak perlu ibadah2an segala, cukup jika kamu bisa menguasai 5 macam ilmu ini saja:
1. Mengetahui dengan pasti tentang Hari Kiamat
2. Menurunkan hujan
3. Mengetahui dengan pasti apa yang ada dalam rahim
4. Mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi padamu besok.
5. Mengetahui dengan pasti di bumi mana kamu akan mati
( QS. Lukman : 34 )
1. Mengetahui dengan pasti tentang Hari Kiamat
2. Menurunkan hujan
3. Mengetahui dengan pasti apa yang ada dalam rahim
4. Mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi padamu besok.
5. Mengetahui dengan pasti di bumi mana kamu akan mati
( QS. Lukman : 34 )
Sombong, Dengki dan Ambisi
Sombong, dengki dan ambisi, sangat berpengaruh dalam kehidupan. Ada
lelaki pendiam yang baik hati telah membunuh seorang karena dendam yang
bertumpuk-tumpuk.
Kaum Quraisy menganiaya nabi SAW dan para sahabatnya dalam waktu lebih dari sepuluh tahun. Puncaknya tokoh-tokoh mereka bermusyawarah di gedung yang diberi nama Darunnadwah. Dalam musyawarah itu mereka memutuskan: Muhammad SAW harus dibunuh, atau diusir dari Makkah atau ditahan hingga meninggal dunia, karena mereka terlalu benci dengan agama yang didakwahkan, dan terlalu cinta dengan agama mereka yang menyembah berhala.
Maka orang hebat adalah yang bisa mengendalikan sombong, dengki dan ambisi. Dan orang jahat adalah yang tidak bisa mengendalikan sombong, dengki dan ambisi. Dalam kitab Kanzul-Ummal (كنز العمال – (ج 3 / ص 525) dijelaskan:
إِياَّكُمْ وَالْكِبْرَ ، فَاِنَّ اِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ عَلَى أَنْ لاَ يَسْجُدَ لِآدَمَ ، وَإِياَّكُمْ وَالْحِرْصَ فَاِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ وَإِياَّكُمْ وَالْحَسَدَ ، فَاِنَّ ابْنَيْ آدَمَ إِنَّماَ قَتَلَ أَحَدُهُماَ صاَحِبَهُ حَسَداً ، فَهُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ. (ابن عساكر عن ابن مسعود).
Artinya:
Jauhilah kesombongan! Karena kesombongan telah mendorong Iblis untuk tidak mau bersujud pada adam AS. Jauhilah ambisi! Karena ambisilah yang telah mendorong Adam untuk makan buah syajarah. Dan jauhilah dengki! Karena sungguh anak Adam telah membunuh pada sahabatnya (yakni saudaranya) karena dengki. Maka sungguh tiga itu sumber segala kesalahan. [HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud).
Kaum Quraisy menganiaya nabi SAW dan para sahabatnya dalam waktu lebih dari sepuluh tahun. Puncaknya tokoh-tokoh mereka bermusyawarah di gedung yang diberi nama Darunnadwah. Dalam musyawarah itu mereka memutuskan: Muhammad SAW harus dibunuh, atau diusir dari Makkah atau ditahan hingga meninggal dunia, karena mereka terlalu benci dengan agama yang didakwahkan, dan terlalu cinta dengan agama mereka yang menyembah berhala.
Maka orang hebat adalah yang bisa mengendalikan sombong, dengki dan ambisi. Dan orang jahat adalah yang tidak bisa mengendalikan sombong, dengki dan ambisi. Dalam kitab Kanzul-Ummal (كنز العمال – (ج 3 / ص 525) dijelaskan:
إِياَّكُمْ وَالْكِبْرَ ، فَاِنَّ اِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ عَلَى أَنْ لاَ يَسْجُدَ لِآدَمَ ، وَإِياَّكُمْ وَالْحِرْصَ فَاِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ وَإِياَّكُمْ وَالْحَسَدَ ، فَاِنَّ ابْنَيْ آدَمَ إِنَّماَ قَتَلَ أَحَدُهُماَ صاَحِبَهُ حَسَداً ، فَهُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ. (ابن عساكر عن ابن مسعود).
Artinya:
Jauhilah kesombongan! Karena kesombongan telah mendorong Iblis untuk tidak mau bersujud pada adam AS. Jauhilah ambisi! Karena ambisilah yang telah mendorong Adam untuk makan buah syajarah. Dan jauhilah dengki! Karena sungguh anak Adam telah membunuh pada sahabatnya (yakni saudaranya) karena dengki. Maka sungguh tiga itu sumber segala kesalahan. [HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud).
Bukan Urusan Saya...!!!
Hehe....akhir2 ini banyak menjumpai orang sewot dan galau gara2 "Si
Bukan Urusan Saya".., baik di dunia nyata atau pun di dunia maya (
sosmed dan temen2nya...), biar adem ayem, ingat2 saja hadist ini :
"Barangsiapa di antara kalian menjumpai pagi dalam keadaan sehat wal afiat badannya, aman dalam perjalanannya, dan memiliki makanan untuk hari ini saja, maka seakan-akan dunia ini menjadi miliknya". (HR. Tirmidzi dan Ibnu majah)...adem kan..?
"Barangsiapa di antara kalian menjumpai pagi dalam keadaan sehat wal afiat badannya, aman dalam perjalanannya, dan memiliki makanan untuk hari ini saja, maka seakan-akan dunia ini menjadi miliknya". (HR. Tirmidzi dan Ibnu majah)...adem kan..?
FujiFilm XM-1
FujiFilm XM-1: Fujifilm X-M1, merupakan kamera mirrorless interchangeable lens dengan ukuran yang sangat kecil dan ringan. Bahkan, kamera ini lebih kecil dibandingkan pendahulunya, X-10, dan X20. Namun, ukuran bodi yang kecil bukan berarti X-M1 kehilangan taringnya. Justru sebaliknya, Fujifilm X-M1 seolah membawa angin segar bagi para penggemar seri X dari Fujifilm.
Ya, kamera berbodi retro ini memang dirancang untuk mobilitas tinggi. Dalam hal ini, sangat cocok menemani perjalanan wisata atau traveling Anda.
Ya, kamera berbodi retro ini memang dirancang untuk mobilitas tinggi. Dalam hal ini, sangat cocok menemani perjalanan wisata atau traveling Anda.
X-M1 telah dilengkapi dengan konektivitas Wi-Fi yang akan sangat membantu Anda untuk langsung berbagi foto ke sosial media, web, email, dan situs berbagi foto yang bertebaran di internet.
Selain itu, di bagian belakang Fujifilm X-m1, terdapat layar LCD dengan resolusi 920.000 titik. Menariknya, X-M1 memelopori inovasi baru di keluarga seri X Fujifilm, dengan layar LCD yang memungkinkan untuk tilt-up 120°dan tilt-down 80°. Dengan demikian, Anda dapat merekam gambar, dari sisi yang unik, bahkan dari sudut ekstrim sekali pun.
Berbicara masalah kinerja, Fujifilm X-M1 yang dilengkapi resolusi sebesar 16,3 Megapixel itu, mampu bersaing dengan pendahulunya, X-Pro1 dan X-E1.
Selain itu, di bagian belakang Fujifilm X-m1, terdapat layar LCD dengan resolusi 920.000 titik. Menariknya, X-M1 memelopori inovasi baru di keluarga seri X Fujifilm, dengan layar LCD yang memungkinkan untuk tilt-up 120°dan tilt-down 80°. Dengan demikian, Anda dapat merekam gambar, dari sisi yang unik, bahkan dari sudut ekstrim sekali pun.
Berbicara masalah kinerja, Fujifilm X-M1 yang dilengkapi resolusi sebesar 16,3 Megapixel itu, mampu bersaing dengan pendahulunya, X-Pro1 dan X-E1.
Sebagai kamera mirrorless yang paling mungil dari jajaran Fujifilm seri X tersebut, kualitasnya boleh diperhitungkan. Kecepatan dalam merekam, ketajaman gambar, akurasi warna, serta efektifnya ISO benar-benar berkelas.
Sama seperti jajaran seri X terdahulu, untuk menjaga kulitas gambar yang dihasilkan, Fujifilm menanamkan prosesor EXR II seperti yang terdapat pada X-Pro1 dan Fuji X-E1. Hal tersebut membuat kamera ini mampu bekerja semakin cepat dengan shutter lag 0,05 detik, dan maksimal kecepatan burst secara kontinyu sampai dengan 5.6 frame per detik untuk maksimum 30 gambar.
Sama seperti jajaran seri X terdahulu, untuk menjaga kulitas gambar yang dihasilkan, Fujifilm menanamkan prosesor EXR II seperti yang terdapat pada X-Pro1 dan Fuji X-E1. Hal tersebut membuat kamera ini mampu bekerja semakin cepat dengan shutter lag 0,05 detik, dan maksimal kecepatan burst secara kontinyu sampai dengan 5.6 frame per detik untuk maksimum 30 gambar.
Satu hal yang juga patut diapresiasi adalah kinerja ISO. Fujifilm X-M1 yang menawarkan rentang ISO 100 (L), 200-25.600 (H) itu, kinerjanya cukup baik. Pada ISO besar seperti 12.800, noise mampu ditekan tanpa mengurangi detil di area tengah foto. Begitu pun halnya dengan detil yang berkurang di bagian tepi tidak terlalu signifikan. Saat digunakan memotret dalam kondisi minim cahaya sekali pun, Fujifilm X-M1 mampu memberikan hasil yang baik.
Seiring dirilisnya Fujifilm X-M1, Fujifilm juga memperkenalkan lensa pancake Fujinon XF 27mm Super EBC f2.8 dan lensa zoom Fujinon XC 16-50mm Super EBC f3.5-5.6 OIS (setara 24mm-76mm) yang dipadukan sebagai lensa kit untuk X-M1.
Lensa XC16-50mm tersebut dibangun dengan 12 elemen optik kaca, aspherical, dan ED. Kecepatan membaca fokus terasa sangat optimal dengan motor berpresisi tinggi, ditambah dengan Optik Image Stabilizer yang terdapat pada lensa ini.
Lensa XC16-50mm tersebut dibangun dengan 12 elemen optik kaca, aspherical, dan ED. Kecepatan membaca fokus terasa sangat optimal dengan motor berpresisi tinggi, ditambah dengan Optik Image Stabilizer yang terdapat pada lensa ini.
FUJIFILM X-M1
Sensor / Resolusi: Sensor CMOS APS-C 1X-Trans,
16 Megapixel
ISO: 200 - 25.600
Shutter: 30-1/4000
Lensa Kit: 27mm dan 16-50mm
(24-76mm eq.)
Auto Focus Contrast Detection: Area (49 areas in 7 x 7 grid), Multi; Changeable size of AF frame; Single AF, Continuous AF, Tracking AF, Manual Focus
Layar: LCD 920,000 dots tilts 120° ke atas dan 80° ke bawah
Konemtivitas: Built-in Wi-Fi for image transfer to smartphone, tablet or PC
Dimensi: 117 x 67 x 39 mm
Sensor / Resolusi: Sensor CMOS APS-C 1X-Trans,
16 Megapixel
ISO: 200 - 25.600
Shutter: 30-1/4000
Lensa Kit: 27mm dan 16-50mm
(24-76mm eq.)
Auto Focus Contrast Detection: Area (49 areas in 7 x 7 grid), Multi; Changeable size of AF frame; Single AF, Continuous AF, Tracking AF, Manual Focus
Layar: LCD 920,000 dots tilts 120° ke atas dan 80° ke bawah
Konemtivitas: Built-in Wi-Fi for image transfer to smartphone, tablet or PC
Dimensi: 117 x 67 x 39 mm
Temukan di sini : http://zocko.it/LGpWc
Portable Scanner : The Skypix TSN410
Portable Scanner: The Skypix TSN410 adalah scanner digital cordless genggam, yang langsung dapat mendigitalkan semua potongan koran, kartu nama, dan tanda terima. Mampu menangkap penuh warna 600dpi gambar resolusi ke kartu memori micro SD, scanner portabel genggam ini membantu kartu untuk memudahkan pengambilan. Dengan desain yang portabel dan mudah digunakan, itu benar-benar scanner digital indah untuk pilihan.
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LGpVW
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LGpVW
Ijinkanlah Aku Mendampinginya di Akhirat
Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid
yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah
masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah
SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak
gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai
pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya
Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat
surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti
Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan
terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah
Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang
ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat
tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut,
Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini
biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan
yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai
ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh
masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan
berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya
menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri
anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada
Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan
bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan
perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak
tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera
aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam
Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin,
bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum
(mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami
patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali
ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di
masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat
gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan
Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid
pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah
Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang
akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah
siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu
perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang
terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak,
anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan
rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu
cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154).
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu
mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya
kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang
masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu
hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun
berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku
tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di
akhirat.”
Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid
yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah
masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah
SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak
gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai
pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya
Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat
surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti
Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan
terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah
Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang
ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat
tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut,
Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini
biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan
yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai
ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh
masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan
berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya
menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri
anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada
Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan
bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan
perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak
tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera
aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam
Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin,
bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum
(mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami
patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali
ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di
masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat
gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan
Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid
pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah
Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang
akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah
siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu
perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang
terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak,
anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan
rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu
cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154).
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu
mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya
kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang
masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu
hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun
berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku
tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di
akhirat.”
Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid
yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah
masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah
SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak
gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai
pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya
Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat
surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti
Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan
terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah
Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang
ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat
tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut,
Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini
biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan
yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai
ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh
masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan
berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya
menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri
anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada
Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan
bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan
perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak
tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera
aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam
Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin,
bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum
(mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami
patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali
ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di
masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat
gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan
Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid
pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah
Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang
akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah
siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu
perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang
terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak,
anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan
rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu
cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154).
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu
mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya
kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang
masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu
hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun
berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku
tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di
akhirat.”
Langganan:
Postingan (Atom)

