Kita tentu pernah mendengar sejarah tentang Pemerintahan Darurat Republik Indonesia atau disingkat PDRI, bukan? Nah, salah satu tempat yang digunakan sebagai markas pemerintahan darurat kala itu adalah Koto Tinggi, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Di desa ini, tampak dua tugu berdiri kokoh.
Tugu pertama dengan tinggi kurang lebih 1,5 meter, dan tugu kedua kira-kira memiliki tinggi 30 meter. Kedua tugu ini menjadi kebanggaan masyarakat Koto Tinggi. Pasalnya, tugu ini sebagai tanda bahwa selama kurang lebih 7 bulan, Indonesia dipimpin dari desa Koto Tinggi.
Seperti yang kita ketahui, Belanda pernah
melakukan agresi kedua setelah kemerdekaan Indonesia. Belanda menyerang
Yogyakarta dan menahan Soekarno dan Hatta pada tahun 19 Desember 1948.
Melihat kondisi ini, Soekarno pun segera melimpahkan mandate kepada Syafruddin Prawira Negara, Menteri Kemakmuran yang kala itu tengah berada di Bukittinggi.
Belanda mendengar rencana ini, mereka pun menggempur Bukittinggi.
Namun, Syafruddin berhasil menyelamatkan diri dan lari bersama
pengikutnya ke Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota. Di sanalah akhirnya
Syafruddin membuat pemerintahan darurat atau PDRI. Selama memimpin
itulah Syafruddin dan pengikutnya bergerilya ke Bangkinang, Bidar Alam,
dan Solok. Sementara itu, M. Rasyid yang juga Menteri Sosial sekaligus
Menteri Pembangunan Pemuda juga ikut bergerilya. Bedanya, ia bergerak
menuju Koto Tinggi.
Di desa itulah M. Rasyid mengajak masyarakat setempat untuk merakit
radio dan mendorong pemancar radio tersebut ke atas bukit. Di sana ia
menyiarkan tentang keberadaan Indonesia ke luar negeri. “Indonesia masih
ada,” begitu kira-kira pesan M. Rasyid melalui gelombang radio.
Namun sayang, berjalannya waktu, tugu PDRI tampak kusam. Di sekitar
tugu terdapat pasar yang tak jarang sampahnya mengotori tugu tersebut.
Tugu ini “tenggelam” oleh aktivitas masyarakat sehari-hari.