Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

VIRUS AKHIR ZAMAN, AKANKAH VIRUS YANG MENGAKHIRI ZAMAN ?

Kolom: Pandemi Corona Pertanda Akhir Zaman? | SOSBUD: Laporan seputar seni,  gaya hidup dan sosial | DW | 12.03.2020

"Akan datang suatu masa dimana musuh-musuhmu kamu akan bersatu untuk merusakmu, seperti bersatunya orang-orang berebut makanan dimeja hidangan. Akan datang suatu waktu dimana kamu akan dikepung sedemikian rupa, yang barat mau menerkam, yang timur mau menghantam, yang selatan mau menyerang dan yang utara mau mencengkeram. Bukan karena sedikitmu saat itu, bahkan kamu banyak dan mayoritas, tapi banyakmu hanya seperti buih di lautan, banyak tetapi tak punya daya dan kekuatan, banyak tetapi mudah dipermainkan gelombang lautan, dihempaskan ditepian pantai tanpa punya makna dan arti. Kondisi mu saat itu kuantitas yang tanpa kualitas, sehingga orang lain mudah saja menyerang, Akidah didangkalkan, dibanjiri peradaban dan kebudayaan yang menjauhkan kita dari sisi Agama, dari segi maksiat dan mungkarat mengepung nilai-nilai Islam."

Dalam sejarah Islam wabah virus seperti ini juga pernah muncul pada zaman Nabi MUHAMMAD SAW. Walaupun bukan virus Corona atau covid-19, namun Nabi punya cara yang sangat efektif dan relevan dengan zaman modern saat ini, seperti Sabda Rasulullah SAW ” Jika kamu mendengar wabah disuatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya, tapi jika terjadi wabah ditempat kamu berada, maka jangan tinggalkan daerah itu..” 

Saat ini dunia sedang diuji, diperingati dan mungkin juga bisa dikatakan hukuman dari ALLAH SWT untuk direnungkan bersama-sama. Saya teringat Firman ALLAH SWT dalam Al’quran (Surah Al-Baqarah 156-157) yang berbunyi ” Dan berikan kabar gembira kepada mereka yang sabar yaitu mereka yang apabila ditimpah musibah, mereka berkata sesungguhnya kami adalah milik ALLAH dan kepadaNYA lah kami kembali ".

Mari Kita renungankan sejenak betapa lemahnya diri manusia dihadapkan pencipta NYA. Negara terkuat dan terhebat seperti, Amerika ,Negara Eropa dan Negara terkaya China dibikin tak berdaya, luluh lantak, hanya dengan makhluk kecil,mungil yang ALLAH SWT turunkan dari langit, untuk apa..?. tentunya sebagai sinyal peringatan, sebagai ibroh dan Hikmah renungan kolbu, agar kita sebagai hamba sadar bahwa kita sangat lemah,hina ,dina dan tidak bisa berbuat apa-apa serta melakukan apapun kalo bukan izin dan Kehendak NYA. 

Hikmah Virus Akhir zaman yang bisa kita petik saat ini adalah : 

1. Menyadari bahwasanya apa yang terjadi dan akan terjadi semata-mata atas Kehendak dan izin ALLAH SWT. 

2. Kita dituntut untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. 

3. Selalu ingin berbuat baik dan Berakhlak terbaik 

4. Senantiasa selalu bersyukur. 

5. Selalu panjatkan Doa agar musibah ini segera berakhir dan mendapat RidhoNya.. 

Hikmah lainnya adalah , manusia menyadari bahwa materialisme dan hedonisme betapa tidak berharga ditengah pandemik ini, dan manusia di paksa untuk tunduk dan mengakui kebesaran-NYA. Aamiin..!!

Sejatinya "RATU ADIL"




Yen tho menang tanpo ngasorake klawan musuh
Kalaupun kelak Ratu adil itu menang melawan musuh-musuhnya, dia tidak akan pernah menyoraki/meremehkan musuhnya.
Sekti tanpo aji-aji
Memiliki kesaktian tanpa jimat.
Ratu iki nyolo-wadi
Penguasa yang satu ini penuh dengan misteri.
Wegig, wasis, waskitho
Pandai menyiasati keadaan, berpengetahuan luas, dan memiliki pandangan batin.
Tan kalepyan sesurupaning jaman
Tidak melupakan perubahan-perubahan jaman yang terjadi.
Biso nyembadani ruwet rentenge wong sapirang-pirang
Bisa mengatasi persoalan  hidup banyak orang
Begja-begjane sing yakin lan tuhu setya sabdaniro
Beruntunglah mereka yang yakin, patuh, dan setia pada perintahnya
Idune idu geni, sabdane malati
Air ludahnya adalah api, ucapannya mengandung kutukan.
Sing bregudul mesti mati
Yang membangkan pasti mati.
Sopo olo njawat dadine kuwalat
Siapa saja yang berniat buruk padanya akan kualat.

Seperti untaian bait dari Jayabaya di atas, masyarakat Jawa pada umumnya berkeyakinan bahwa suatu saat nanti akan muncul yang namanya Ratu Adil yang berkuasa. Seorang ulama ahli sunnah pernah berkata, “Sebetulnya Ratu Adil adalah Al-Qur’an yang syarohnya adalah Al-Hadits.”
Alasan beliau karena Ratu Adil menurut keyakinan orang Jawa yaitu ‘kesampar kesandung, ora ono wong weruh’. Artinya: “Sebetulnya Ratu Adil itu ada jelas sekali, bahkan terkadang tertendang oleh kaki pencarinya, tetapi tidak diketahui.”
Ada yang bertanya, “Apa betul Nabi Isa AS adalah Ratu Adil yang sesungguhnya?.” Ya mungkin bisa jadi begitu karena memang menurut Hadits memang begitu.

Imam Bukhari meriwayatkan:صحيح البخاري - (ج 7 / ص 462) 2070

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

Arti (selain isnad)nya: Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang diriku di TangaNya, niscaya putra Maryam AS hampir turun sungguh sebagai hakim adil di kalangan kalian. Dia AS akan menghancurkan Salib, membunuh babi, dan membebaskan pajak. Dan harta akan melimpah, hingga tak seorang pun menerimanya”.

Lalu, kapankah Isa AS akan turun ke bumi?.
Mungkin jika pasukan Salibis dan Zionis telah yakin sepenuhnya bahwa Islam telah lumpuh. Saat itu pasukan Salibis merebut kota Konstantinopel, sehingga berdampak perang akbar yang mengerikan.”

Imam Muslim meriwayatkan : صحيح مسلم - (ج 14 / ص 85)5157 -

 حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ الرُّومُ بِالْأَعْمَاقِ أَوْ بِدَابِقٍ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِمْ جَيْشٌ مِنْ الْمَدِينَةِ مِنْ خِيَارِ أَهْلِ الْأَرْضِ يَوْمَئِذٍ فَإِذَا تَصَافُّوا قَالَتْ الرُّومُ خَلُّوا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الَّذِينَ سَبَوْا مِنَّا نُقَاتِلْهُمْ فَيَقُولُ الْمُسْلِمُونَ لَا وَاللَّهِ لَا نُخَلِّي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ إِخْوَانِنَا فَيُقَاتِلُونَهُمْ فَيَنْهَزِمُ ثُلُثٌ لَا يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ أَبَدًا وَيُقْتَلُ ثُلُثُهُمْ أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ اللَّهِ وَيَفْتَتِحُ الثُّلُثُ لَا يُفْتَنُونَ أَبَدًا فَيَفْتَتِحُونَ قُسْطَنْطِينِيَّةَ فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْغَنَائِمَ قَدْ عَلَّقُوا سُيُوفَهُمْ بِالزَّيْتُونِ إِذْ صَاحَ فِيهِمْ الشَّيْطَانُ إِنَّ الْمَسِيحَ قَدْ خَلَفَكُمْ فِي أَهْلِيكُمْ فَيَخْرُجُونَ وَذَلِكَ بَاطِلٌ فَإِذَا جَاءُوا الشَّأْمَ خَرَجَ فَبَيْنَمَا هُمْ يُعِدُّونَ لِلْقِتَالِ يُسَوُّونَ الصُّفُوفَ إِذْ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّهُمْ فَإِذَا رَآهُ عَدُوُّ اللَّهِ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ فَلَوْ تَرَكَهُ لَانْذَابَ حَتَّى يَهْلِكَ وَلَكِنْ يَقْتُلُهُ اللَّهُ بِيَدِهِ فَيُرِيهِمْ دَمَهُ فِي حَرْبَتِهِ.
Arti (selain isnad)nya:
Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat takkan berdiri hingga kaum Romawi turun di kota Amaq atau Dabiq (dekat Chalab atau Aleppo).
Di hari itu, pasukan dari Madinah sebaik-baik penduduk bumi, datang pada mereka. Ketika mereka telah berbaris, kaum Romawi berkata ‘biarkan antara kami dan orang-orang yang telah menawan kami! Kami akan memerangi mereka (dulu)’.
Kaum Muslimiin berkata ‘demi Allah kami takkan membiarkan antara kalian dan antara saudara kami’. Maka kaum Romawi memerangi kaum Muslimiin. Kaum Muslimiin yang kabur sepertiga, taubat mereka takkan diterima oleh Allah. Sepertiga lainnya terbunuh sebagai shuhada lebih utama di sisi Allah. Sisa mereka yang sepertiga menang dan takkan terkena fitnah untuk selamanya. Lalu mereka merebut kota Qusthanthiniyah (Constantinople).
Ketika telah membagi rampasan perang dan telah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon zaitun; tiba-tiba syaitan berteriak di kalangan mereka ‘sesungguhnya Al-Masih telah menggantikan kalian di dalam keluarga kalian!’ Sontak mereka keluar, padahal teriakan itu tipuan.
Ketika kaum Muslimiin pergi ke Syam; Al-Masih keluar.
Ketika mereka bersiap untuk perang, sama menata barisan; shalat pun diiqamati.
Isa bin Maryam AS turun untuk mengimami mereka.
Ketika melihat Isa bin Maryam AS, musuh Allah (Al-Masih Dajjal) mencair seperti garam di dalam air. Kalau Isa AS membiarkan, niscaya dia mencair hingga tewas. Tetapi Allah membunuh dia melalui tangan Isa AS.
Pada mereka, Isa AS memperlihatkan darah Dajjal yang melumuri senjatanya.”

Islam Zaman Dahulu, Dunia Dikuasai Ahlus-Sunnah

Sebelum terjadi Perang Salib satu dan seterusnya, hampir seluruh dunia dikuasai kaum Ahlus-Sunnah. Ibnu Katsir menjelaskan berkenaan dengan hal tersebut, mendasari Firman Allah dan merujuk sejarah yang ada. Hanya saja di dalam kitab tersebut tidak ada istilah Perang Salib:

“وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [النور/55] هَذاَ وَعْدٌ مِنَ اللهِ لِرَسُوْلِهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بِأَنَّهُ سَيَجْعَلُ أُمَّتَهُ خُلَفاَءَ اْلأَرْضِ، أَيْ: أَئِمَّةَ الناَّسِ وَالْوُلاَةَ عَلَيْهِمْ، وَبِهِمْ تَصْلُحُ الْبِلاَدُ، وَتَخْضَعُ لَهُمُ الْعِباَدُ، وَلَيُبَدِّلَنَّ بَعْدَ خَوْفِهِمْ مِنَ النَّاسِ أَمْناً وَحُكْماً فِيْهِمْ، وَقَدْ فَعَلَ تَباَرَكَ وَتَعاَلَى ذَلِكَ. وَلَهُ اْلحَمْدُ وَالمِنَّةُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَمُتْ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ مَكَّةَ وَخَيْبَرَ وَالْبَحْرَيْنِ، وَساَئِرَ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَأَرْضَ الْيَمَنِ بِكَماَلِهاَ. وَأَخَذَ اْلجِزْيَةَ مِنْ مَجُوْسِ هَجَرَ، وَمِنْ بَعْضِ أَطْراَفِ الشَّامِ، وَهاَداَهُ هِرَقْلُ مَلِكُ الرُّوْمِ وَصاَحِبُ مِصْرَ وَاْلإِسْكَنْدَرِيَّةِ -وَهُوَ الْمُقَوْقِسُ -وَمُلُوْكُ عُمَانَ وَالنَّجاَشِيُّ مَلِكُ الْحَبَشَةِ، الَّذِيْ تَملَّكَ بَعْدَ أَصْحَمَةَ، رَحِمَهُ اللّهُ وَأَكْرَمَهُ ثُمَّ لَمَّا مَاتَ رَسُولِ اللّهِ - صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَاخْتاَرَ اللهُ لَهُ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْكَرَامَةِ ، قاَمَ بِاْلأَمْرِ بَعْدَهُ خَلِيْفَتُهُ أَبُو بَكْرِ الصّدّيقُ، فَلَمَّ شَعَثَ ماَ وَهَى عِنْدَ مَوْتِهِ، عَلَيْهِ الصّلَاةُ وَالسّلَامُ وَأَطَّدَ جَزِيْرَةَ الْعَرَبِ وَمَهَدَهاَ، وَبَعَثَ الْجُيُوْشَ اْلإِسْلاَمِيَّةِ إِلَى بِلاَدِ فاَرِسَ صُحْبَةَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ، رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ، فَفَتَحُوْا طَرَفاً مِنْهاَ، وَقَتَلُوْا خَلْقاً مِنْ أَهْلِهاَ. وَجَيْشاً آخَرَ صُحْبَةَ أَبِيْ عُبَيْدَةَ، رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ مَعَهُ مِنَ اْلأُمَراَءِ إِلَى أَرْضِ الشَّامِ، وَثاَلِثًا صُحْبَةَ عَمْرِو بْنِ الْعاَصِ، رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ ، إِلَى بِلاَدِ مِصْرَ، فَفَتَحَ اللهُ لِلْجَيْشِ الشَّامِيِّ فِيْ أَياَّمِهِ بُصْرَى وَدِمَشْقَ وَمَخَالِيْفَهُماَ مِنْ بِلاَدِ حَوْراَنَ وَماَ وَالاَهاَ، وَتَوَفاَّهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ، وَاخْتاَرَ لَهُ ماَ عِنْدَهُ مِنَ الْكَراَمَةِ. ومَنَّ عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَأَهْلَهُ بِأَََنْ أَلْهَمَ الصِّدِّيْقَ أَنِ اسْتَخْلِفْ عُمَرَ الْفاَرُوْقَ، فَقاَمَ فِي اْلأَمْرِ بَعْدَهُ قِياَماً تَاماًّ، لَمْ يَدُرِ الْفُلْكُ بَعْدَ اْلأَنْبِياَءِ [عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ] عَلَى مِثْلِهِ، فِيْ قُوَّةِ سِيْرَتِهِ وَكَماَلِ عَدْلِهِ. وَتَمَّ فِي أَياَّمِهِ فَتْحُ الْبِلاَدِ الشاَّمِيَّةِ بِكَماَلِهاَ، وَدِياَرُ مِصْرَ إِلَى آخِرِهاَ، وَأَكْثَرُ إِقْلِيْمِ فاَرِسَ، وَكَسَّرَ كِسْرَى وَأَهاَنَهُ غاَيَةَ اْلهَواَنِ، وَتَقَهْقَرَ إِلَى أَقْصَى مَمِلَكَتِهِ، وقَصَّرَ قَيْصَرَ، وَانْتَزَعَ يَدَهُ عَنْ بِلاَدِ الشاَّمِ فَانْحاَزَ إِلَى قُسْطَنْطِيْنَةَ، وَأَنْفَقَ أَمْواَلَهُماَ فِي سَبِيْلِ اللهِ، كَماَ أَخْبَرَ بِذَلِكَ وَوَعَدَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ، عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ أَتَمُّ سَلاَمٍ وَأَزْكَى صَلاَةٍ.

Artinya:
Allah telah menjanjikan pada sebagian kalian yang telah beriman dan telah beramal shalih:
1. Niscaya sungguh Dia akan menjadikan mereka sebagai khalifah di dalam bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah pada orang-orang sebelum mereka.
2. Niscaya sungguh akan menempatkan agama milik mereka yang Dia ridhai untuk mereka.
3. Niscaya sungguh Dia akan memberi ganti rasa aman dari setelah ketakutan mereka: mereka akan menyembah-Ku dan tidak mensyirikkan-Ku pada sesuatu.
Namun barang siapa kufur setelah itu, berarti mereka itu kaum fasiq. [Qs An-Nur 55].

Ini Janji Allah untuk Rasul-Nya صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ bahwa Allah akan menjadikan umat Muhammad صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ sebagai khalifah-khalifah bumi, maksudnya panutan dan pengatur-pengatur mereka. Dan dengan perantaraan mereka, kota-kota akan menjadi baik, dan Hamba-Hamba Allah akan merendah pada mereka. Dan niscaya rasa takut mereka pada manusia, akan dirubah oleh Allah menjadi Rasa Aman, bahkan hukum akan ditentukan oleh mereka. Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى pun telah melaksanakan janji tersebut.

Dan Segala Puji dan Anugrah adalah Hak Allah. Dalam kenyataan Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ tidak meninggal dunia, sehingga Allah membantu beliau menaklukkan kota Makkah, Khaibar, Bahrain, seluruh Jazirah Arab, dan kota Yaman secara sempurna.

Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ telah menarik pajak dari pemeluk agama Majusi kota Hajar, dan sebagian pinggiran kota-kota Syam. Hiraqla raja Romawi, raja Mesir dan Iskandariyah bernama الْمُقَوْقِسُ (Al-Muqauqis), raja-raja Oman dan Najasyi, dan raja Habasyah yang bertahta setelah Ash-Chamah رَحِمَهُ اللّهُ, telah memberi Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ hadiyah kehormatan. [1]

Lalu Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ meninggal dunia, dan Allah memberi Karamah Pilihan di sisi-Nya untuk beliau, tegasnya bahwa yang berdiri untuk memegang perkara saat itu adalah khalifah beliau, Abu Bakr As-Shiddiq. [2]
Ketika Abu Bakr telah membenahi Islam yang acak-acakan setelah beliau عَلَيْهِ الصّلَاةُ وَالسّلَامُ wafat. Telah memperkokoh dan memperkuat Jazirah Arab. Dan telah mengutus:

1. Pasukan-pasukan Islam agar mengajak Islam pada beberapa penduduk kota Persia di bawah pimpinan Khalid bin Al-Walid رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ. [3] Mereka pun berhasil menaklukkan pinggiran kota Persia (Farisi). Cukup banyak penduduk yang membangkang pada Tuhan, terbunuh karena sepak terjang Khalid dan pasukannya. Akhirnya mereka banyak yang masuk Islam.

2. Pasukan-pasukan lainnya di bawah pimpinan Abu Ubidah رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ didampingi sejumlah amir menuju kota Syam.

3. Pasukan-pasukan di bawah pimpinan Amr bin Ash رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ menuju sejumlah kota di Mesir.
Allah memberi Kemenangan pada pasukan yang menuju kota Syam, di masa hayat Abu Bakr رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ. Wilayah yang ditaklukkan, Bushra, Damaskus dan sekitarnya, kota Chauran dan sekitarnya. [4] Akhirnya Allah عَزّ وَجَلّ mewafatkan dan memberikan Karamah pilihan yang di sisi-Nya untuk Abu Bakr رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ. [5]

Sebelumnya, Allah telah memberikan Anugrah pada Islam dan pemeluknya, berupa Ilham untuk Abu Bakr رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ, “Angkatlah Umar Al-Faruq sebagai khalifah!.”
Maka Umar رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ pun mengurusi perkara setelahnya, dengan kebijakan sangat sempurna.

Bahtera-bahtera setelah para Nabi عَلَيْهِمُ السَّلاَمُyang ada, mutlak tidak ada yang sehebat bahtera Umar, mengenai kuatnya langkah kebijakan dan kesempurnan keadilannya. Di hari-hari hayatnya penaklukan kota-kota Syam sangat sempurna, bahkan kota-kota Mesir hingga pinggirannya ditaklukkan. Sejumlah besar kota Farisi (Persia) juga ditaklukkan. Kerajaan Kisra dihancurkan dan dihinakan secara maksimal, hingga Raja Kisra melarikan diri ke wilayah kekuasaannya paling ujung.

Langkah selanjutnya Umar RA menghajar hingga Qaishar Romawi meninggalkan kota Syam, melarikan diri ke Qusthanthinah (Konstantinopel). [6] Harta kekayaan dua kerajaan raksasa tersebut, diinfakkan oleh Umar ke Sabilillah, sebagaimana Rasulullah عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ أَتَمُّ سَلاَمٍ وَأَزْكَى صَلاَةٍ صَلاَةٍ telah mengkhabarkan dan menjanjikan.

Kejayaan Islam Setelah Umar

Jika di zaman Umar bin Khatthab رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ saja, kejayaan Islam sudah seperti itu, apa lagi pada zaman Utsman bin Affan رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ.

Ibnu Katsir meneruskan tulisannya:

ثُمَّ لَماَّ كاَنَتِ الدَّوْلَةُ الْعُثْماَنِيَّةُ، امْتَدَّتِ الْمَماَلِيْكُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ إِلَى أَقْصَى مَشاَرِقَ اْلأَرْضِ وَمَغاَرِبَهاَ، فَفُتِحَتْ بِلاَدُ اْلمَغْرِبِ إِلَى أَقْصَى ماَ هُناَلِكَ: اْلأَنَدَلُسِ، وَقَبْرَصَ، وَبِلاَدِ الْقَيْرَوَانِ، وَبِلاَدِ سَبْتَةَ مِماَّ يَلِي الْبَحْرَ اْلمُحِيْطِ، وَمِنْ ناَحِيَةِ الْمَشْرِقِ إِلَى أَقْصَى بِلاَدِ الصِّيْنِ، وَقُتِلَ كِسْرَى، وَباَدَ مُلْكُهُ بِالْكُلِّيَّةِ. وَفُتِحَتْ مَداَئِنُ الْعِراَقِ، وَخُراَساَنُ، وَاْلأَهْواَزُ، وَقَتَلَ اْلمُسْلِمُوْنَ مِنَ التُّرْكِ مَقْتَلَةً عَظِيْمَةً جِداًّ، وَخَذَلَ اللهُ مَلِكَهُمُ اْلأَعْظَمَ خاَقاَنَ، وَجُبِيَ الْخَراَجُ مِنَ الْمَشاَرِقِ وَالْمَغاَرِبِ إِلَى حَضْرَةِ أَمِيْرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ عُثْماَنَ بْنِ عَفاَّنَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ. وَذَلِكَ بِبَرَكَةِ تِلاَوَتِهِ وَدِرَاسَتِهِ وَجَمْعِهِ اْلأُمَّةَ عَلَى حِفْظِ اْلقُرْآنِ؛ وَلِهَذاَ ثَبَتَ فِي الصَّحِيْحِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَنَّهُ قاَلَ: " إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا" فَهاَ نَحْنُ نَتَقَلَّبُ فِيْماَ وَعَدَناَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، فَنَسْأَلُ اللهَ اْلإِيْماَنَ بِهِ، وَبِرَسُوْلِهِ، وَالْقِياَمَ بِشُكْرِهِ عَلَى اْلوَجْهِ الَّذِيْ يُرْضِيْهِ عَناَّ .

Artinya:

Lalu wilayah kekuasan Daulat Utsmaniyah Islamiyah melebar ke lebih ujung Timur dan Baratnya bumi. Kota-kota Maghribi ditaklukkan, melebar hingga ke wilayah paling ujung: Andalusia, Qabrash, kota-kota Qairawan, kota-kota Sabtah dekat laut Muhith. Wilayah kekuasaan bagian Timur juga melebar hingga ke ujung negeri Cina. Sementara itu Raja Kisra dibunuh, dan berakhirlah seluruh kerajaannya. [7]

Sejumlah kota Iraq juga ditaklukkan, demikian pula kota Khurasan dan Ahwaz. Umat Islam juga memerangi bangsa Turki dengan peperangan sangat dahsyat sekali. Allah merendahkan raja terbesar mereka bernama Khaqan. Kharaj (hasil bumi dari kafir dzimmi atau dzimmah) mulai dari wilayah-wilayah Timur dan Barat bumi, disetorkan ke hadirat Utsman bin Affan رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ.

Itu karena barakah beliau, rajin membaca dan memperdalam ilmu Al-Qur’an. Beliau juga berjasa menyeragamkan Al-Qur’an untuk umat Islam.[8] Oleh karena itu, di dalam Hadits shahih telah tertulis:
“Sesungguhnya Allah telah melipatkan bumi untukku, hingga saya menyaksikan bagian Timur-timur dan Barat-barat bumi. Dan sungguh wilayah kerajaan umatku, akan sampai ke wilayah yang telah dilipatkan untukku.”

Kini kitalah yang berbolak-balik, yakni tenggelam pada Janji Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya telah menetapi janjinya. Maka kita memohon agar Allah menjadikan kita beriman pada-Nya dan pada Rasul-Nya, dan agar kita mensyukuri nikmat, agar Dia ridha pada kita.

Benarkah Pulau Sumatra Telah Dikenal Sejak Zaman Rasulullah SAW ?


Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction” yang di seminarkan November 2011 lalu.

Syed Muhammad al Naquib al Attas lahir di Bogor, 5 September 1931 adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur.

Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk sampai pada kesimpulan di atas :

Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain menyebutkan sebagai berikut:
…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda“Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin Samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (sediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu”

Dasarnya tentu sangat kuat baik secara teologis maupun secara antropologis. Menurutnya, Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As-Sumatrani, Syech Abdurrauf As-singkili yang terkenal dengan nama Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala adalah sekian diantara ulama besar Aceh yang pernah ada di zaman keemasan kesultanan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Bahkan, sekian diantara Wali Songo memiliki garis hubungan pendidikan atau lulusan (alumni) yang berguru di Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam Asia tenggara kala itu. Bahkan beberapa diantaranya ada yang memiliki hubungan keturunan dengan Aceh penyebar Islam di tanah Jawa.

Sumber wikipedia menyebutkan, bahwa asal-usul penamaan pulau "Sumatra" sendiri berasal dari keberadaaan sebuah kerajaan benama Samudera Pasai (terletak di pantai pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang. (Nicholaas Johannes Krom, De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941.) 

Kedua, berupa terma “kāfūr” yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kata ini berasal dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi. Kata “kāfūr” juga merupakan nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.

Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga karena “menutupi” bau jenazah sebelum dikubur.
Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatra.

Dengan demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut (pasai) dan dari laporan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka singgahi.

Wallohua'lam...

Na'udzubillah, Di Negara Ini Dilarang Beragama Islam


Inilah Angola, negara Afrika pertama yang melarang seluruh warganya untuk memeluk agama Islam, atau pun menyebarkannya. Tak hanya itu, semua masjid yang sudah ada juga ditutup.
Larangan itu diumumkan sendiri oleh Presiden Angola Jose Eduardo dos Santos, pada hari Minggu (30/8/2015), menurut laporan On Islam. "Ini adalah akhir dari pengaruh Islam di negara kami," katanya.
Pengumuman larangan agama Islam di Angola pertama kali dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Rosa Cruz e Silva. Menurutnya, agama Islam tidak mendapat persetujuan dari kementerian keadilan dan hak asasi manusia.
"Proses legalisasi Islam tidak mendapat persetujuan dari kementerian keadilan dan hak asasi manusia, masjid-masjid mereka akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut," kata Silva.
Dia menambahkan bahwa Islam dilarang di negaranya karena ajarannya dianggap bertentangan dengan kebudayaan Angola.
Populasi di Angola mencapai 16 juta jiwa, di mana mayoritas warganya memeluk Kristen. Sementara itu, hanya ada 80 ribu warga yang memluk agama Islam. Kebanyakan muslim di Angola adalah pengungsi dari Afrika Barat dan Lebanon, menurut departemen luar negeri AS.
Inilah gambaran jelas yang terbaru, bahwa di mana pun, ternyata minoritas masih jadi kata yang paling disukai.

Kisah Bung Karno Kepergok Saat Menyamar di Kawasan Senen

Kisah Bung Karno Kepergok Saat Menyamar di Kawasan Senen

Sebagai seorang Presiden yang lahir dari rahim rakyat jelata, Bung Karno merasa dekat dengan rakyat. Sepanjang perjuangan pergerakan kemerdekaan, ia selalu dikelilingi rakyat, didukung rakyat, diikuti rakyat ke mana pun telunjuknya mengarah.

Karenanya, sekalipun ia telah menyandang predikat Presiden, kebiasaan untuk berada di tengah-tengah rakyat jelata tak pernah bisa sirna. Dalam biografinya, "Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia," karya Cindy Adams, ia mengatakan, sering merasa lemas, napas seakan berhenti apabila tidak bisa keluar Istana dan bersatu dengan rakyat-jelata yang melahirkannya.

Karena itu pula, ia tak jarang keluar Istana seorang diri, ada kalanya dikawal seorang ajudan berpakaian preman. Bagaimana ia menyamar?
Menurut Bung Karno, tidak terlalu sulit. Sebab, rakyat kebanyakan sangat lekat dengan penampilan Bung Karno khas dengan baju seragam dan peci hitam.

Maka, ketika Bung Karno berganti pakaian, memakai sandal, pantalon, atau hanya berkemeja, lalu mengenakan kacamata berbingkai tanduk, rupa Bung Karno sudah beda sama sekali.

Dengan cara itu, Bung Karno bisa leluasa masuk-keluar pasar tanpa dikenali orang. Ia merasa kepunyaan rakyat, karenanya menjadi lebih nyaman bila berada di tengah rakyat. Perasaan Bung Karno langsung tenteram jika mendengar percakapan riuh orang-orang.

Bung Karno menyimak rakyat bergunjing, rakyat bergosip, rakyat berdebat, rakyat berkelakar. Pada saat itulah, Bung Karno merasakan sebuah kekuatan merasuk, mengaliri seluruh pembuluh darah.

Dari satu tempat ke tempat lain, sesekali bahkan Bung Karno berhenti di pinggir jalan, memesan sate ayam yang disajikan menggunakan pincuk daun pisang, dan memakannya sambil duduk di trotoar. Saat-saat seperti itulah Bung Karno merasakan kesenangan luar biasa.

Roso Daras menceritakan dalam bukunya, "Total Soekarno" bahwa  ada kalanya, penyamarannya berantakan kalau Bung Karno kelupaan. Lupa untuk tidak berbicara. Lupa untuk tidak mengeluarkan suara.
Seperti yang terjadi di kawasan Senen, Jakarta Pusat, di dekat lokasi pembangunan gudang stasiun. Waktu itu, spontan saja ia bertanya kepada tukang bangunan.
"Dari mana diambil batu bata dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?"
Apa yang terjadi setelah Bung Karno bersuara? Belum sempat tukang bangunan menjawab pertanyaan Bung Karno, terdengar seorang perempuan berteriak kencang sekali.
"Itu suara Bapak… Ya… suara Bapak!!!… Hee… orang-orang, ini Bapak…. Bapak….!!!!"

Dalam sekejap ratusan, kemudian ribuan orang menyemut mengerubungi Bung Karno. Mereka berebut mendesak, menyalami, memegang, suasana pun menjadi gaduh. Ajudan segera mengamankan Bung Karno, menyibak kerumunan massa, memasukkannya ke dalam mobil, dan menghilang.

Subhanalloh, Silaturahim Ternyata Menyehatkan Jantung

 
 
Silaturahim atau menyambut kerabat hukumnya wajib bagi setiap orang islam. Dengan bersilaturahim, kita dapat mengakrabkan hubungan kita dengan kerabat. Dengan silaturahim juga dapat mempererat tali persaudaraan diantara umat muslim.
 
Silaturahim yang baik pun dapat menenangkan hati dan jiwa. Hati yang sehat membawa jasmani yang sehat pula, terutama jantung. Karena jantung dapat memberikan tekanan emosi yang bermacam-macam pada setiap orang.
 
Hal ini dibuktikan oleh seorang dokter bernama Myriam Horsten. Ia adalah dokter spesialis jantung. Sering ia merasa sedih karena setiap tahun harus melihat pasiennya kehilangan nyawa karena serangan jantung.
 
Menurut pengalamannya selama menjadi dokter, pasiennya yang menderita penyakit jantung adalah orang yang hidupnya datar-datar saja tanpa masalah. Sebagian besar pasiennya adalah orang yang senang menyendiri, hidup bahagia tanpa ada masalah menghadapi.
 
Melihat hal tersebut, Myriam merasa heran. Kemudian ia melakukan penelitian dengan beberapa koleganya dari Karolinska Institute, Stockholm, Swedia. Ia merekam detak jantung 300 orang wanita selama 24 jam secara terus menerus.
 
Hasilnya sangat mengejutkan, dari penelitiannya itu diketahui bahwa orang yang sehat adalah mereka yang memiliki detak jantung yang variatif. Artinya, detak jantung mereka berbeda-beda sesuai dengan keadaan emosinya.
 
Hal ini jelas sekali bahwa orang yang melakukan hubungan sosial dengan orang lain atau bersilaturahim dengan orang lain akan memiliki jantung yang sehat. Karena setiap berinteraksi, seseorang akan merasakan senang, tertawa, sedih, geram, takut, optimis, gelisah, dan rasa lainnya.
 
Hal inilah yang memicu jantung agar aktif dan bekerja lebih keras. Ini juga disebut dengan senam jantung.
 
"Jantung dalam kondisi seperti ini adalah jantung yang berolahraga. Jantung ini menjadi terlatih dan kuat. Jantung ini adalah jantung yang sangat sehat," kata Myriam Horsten.
 
"Sebaliknya, jantung orang yang hidupnya datar-datar saja, tenteram dan jarang berinteraksi dengan orang lain memiliki detak jantung yang tidak bevariasi, sehingga jantung menjadi lemah dan rentan terhadap serangan," lanjutnya.
 
Oleh karena itu, perbanyaklah bersilaturahim dengan orang lain. Jangan takut untuk merasa sedih, kecewa, gelisah, atau hal buruk lainnya karena dibalik itu semua kamu akan menemukan kebahagiaan. 
Wallohua'lam...

"NGELES" ALA BOB SADINO, BETULKAH INI ?



"Ngeles" ala Bob Sadino :

● Bangun tidur anda minum apa?
Apa Aqua? (74% sahamnya milik Danone perusahaan Perancis) atau
Teh Sariwangi (100% saham milik Unilever Inggris).

● Minum susu SGM (milik Sari Husada yang 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda).

● Lalu mandi pakai sabun Lux dan Pepsodent (Unilever, Inggris).

● Sarapan?
Berasnya beras impor dari Thailand (BULOG-pun impor), gulanya juga impor (Gulaku, Malaysia).

● Mau santai habis makan, rokoknya Sampoerna (97% saham milik Philip Morris Amerika).

● Keluar rumah naik motor/mobil buatan Jepang, Cina,India, Eropa tinggal pilih.

● Sampai kantor nyalain AC buatan Jepang, Korea, Cina.

● Pakai komputer, hp (operator Indosat, XL, Telkomsel semuanya milik
asing; Qatar, Singapura, Malaysia).

● Mau belanja?
Ke Carrefour, punya Perancis. Kalo gitu ke Alfamart (75% sahamnya Carrefour). Bagaimana dengan Giant? Ini punya Dairy Farm International,
Malaysia yang juga Hero.

● Malam-malam iseng ke Circle K dari Amerika

● Ambil uang di ATM BCA, Danamon, BII, Bank Niaga, ah semuanya sudah
milik asing walaupun namanya masih Indonesia.

● Bangun rumah pake semen Tiga Roda Indocement sekarang milik Heidelberg (Jerman) (61,70%). Semen Gresik milik Cemex Meksiko, Semen Cibinong punyanya Holcim (Swiss).

Masih banyak lagi kalo mau diterusin. By the way, BB atau HP anda pun
buatan 'luar' dan masih banyak lagi belum dari makanan

CUMA KORUPTOR aja yang Asli Produk Indonesia..!!! **upsss sory**

Tanpa mereka mungkin kita susah maju karena pekerjanya juga banyak warga indo tapi yang harus di banyakin itu yah para pengusaha asli Indonesia biar seimbang

Semoga generasi penerus kita bnyak yang jadi pengusaha dan bukan bekerja dengan org lain.

Waspadalah ! Agama Baru "Kristen Ortodoks" Ini, Tiru Cara Ibadahnya Orang Islam


Agama baru yang disebut bernama Kristen Ortodoks Syiria ini tengah menjadi sorotan para netizen di Facebook, dengan beredarnya gambar orang beribadah yang sekilas mirip dengan cara beribadah orang Islam

Agama baru kristian ortodok ini dari syria dan lebanon. Namanya Kristen Ortodoks Syiria (KOS).
Mereka sholat, puasa, zakat, Gerejanya berbentuk Masjid, dll. Bangunan Gerejanya persis seperti Masjid milik Ummat muslim. Bila dengar bacaan-bacaannya pun seperti alunan ayat quran.

Aliran baru ini masuk ke Indonesia dari Syiria & Libanon, Agama Kristen yg menyerupai Islam.



Allohuakbar, Guratan Ayat-Ayat Suci yang Selalu Berganti di Tubuh Ali



Ali Yakubov, bayi berusia 9 bulan, menarik perhatian warga Red October, Rusia, beberapa waktu lalu.

Sebabnya, di punggung, dagu, tangan, betis, kaki, dan perut muncul tulisan ayat-ayat Allah dan berganti-ganti.

Fenomena ini diberitakan media internasional The Telegraph. Warga lantas berbondong-bondong datang, termasuk wartawan media internasional.

Wartawan melihat pada kaki kanan Ali terdapat tulisan “Alhamdulillah”, atau segala puji bagi Allah. Awalnya, tulisan itu ditemukan di dagu.

Tulisan itu berwarna muda dan saat akan berganti, warnanya memudar. Melihat fenomena ini, petugas kesehatan setempat sempat kebingungan, mengapa tulisan itu bisa muncul.

Ali merupakan putra kedua. Madina, ibu kandung Ali mengatakan, fenomena itu tak ditemukan saat putri pertamanya lahir. 
Madina mengatakan, “Biasanya tanda-tanda itu muncul dua kali seminggu, pada hari Senin dan malam antara Kamis dan Jumat. Setelah tiga hari tulisan itu akan hilang dan berganti dengan ayat yang baru.”

“Ali selalu merasa tak enak badan saat itu terjadi. Ia menangis dan suhu tubuhnya naik."

" BACALAH INI 2 MENIT SAJA "

Seorang mandor bangunan yg berada di lt 5 ingin memanggil pekerjanya yg sdg bekerja di bawah.
Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.
Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000- yg jatuh tepat di sebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tsb dan melanjutkan pekerjaannya.
Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.
Cerita tersebut di atas serupa dengan kehidupan kita, اَللّهُ selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita.
Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kpd NYA...
Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang,
Bahkan kita selalu bilang...
kita lagi "HOKI!"
Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik اَللّهُ
Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yg kita sebut musibah..!
agar kita mau menoleh kepada-NYA...
Sungguh اَللّهُ sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada NYA. Sehingga tak perlu lagi lemparkan batu kecil lagi saat IA rindu dan ingin berkomunikasi dgn kita...
Semoga bermanfaat

Kaos Kaki Sobek Sang Milliarder

Al-Kisah seorang kaya raya (Milyader), sedang sakit parah..menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya.
Beliau berwasiat: Anak-anaku...jika ayah sudah dipanggil yang Maha Kuasa, ada permintaan ayah kepada kalian "tolong di pakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun kaos kaki itu sudah robek, ayah ingin pake barang kesayangan semasa bekerja di kantor ayah dan minta kenangan kaos kaki itu dipake bila ayah dikubur nanti. 

Singkat cerita Akhirnya sang Ayah meninggal dunia. Saat mengurus Jenazah dan saat mengkafani, anak2nya minta ke pak modin untuk memakaikan kaus kaki yg robek itu sesuai wasiat ayahnya. Akan tetapi pak modin menolaknya: "maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dipakaikan kepada mayat..". Terjadi diskusi panas antara anak2 yg ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak modin yg juga ustad yg melarangnya. 

Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris. Beliau menyampaikan: "sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka ber-sama2 siapa tahu ada petunjuk.." 

Maka dibukalah surat wasiat alm milyader buat anak2nya yg di titipkan kepada Notaris tersebut. Ini bunyinya: Anak-anaku pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaus kaki robek kepada mayat ayah...lihatlah anak2ku padahal harta ayah banyak, uang berlimpah, beberapa mobil mewah, tanah dan sawah di-mana2, rumah mewah banyak..tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati. Bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yg ikhlas. Anak2ku inilah yg ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dg dunia yg sementara. Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah....Semoga mengingatkan k

Sombong, Dengki dan Ambisi

Sombong, dengki dan ambisi, sangat berpengaruh dalam kehidupan. Ada lelaki pendiam yang baik hati telah membunuh seorang karena dendam yang bertumpuk-tumpuk.

Kaum Quraisy menganiaya nabi SAW dan para sahabatnya dalam waktu lebih dari sepuluh tahun. Puncaknya tokoh-tokoh mereka bermusyawarah di gedung yang diberi nama Darunnadwah. Dalam musyawarah itu mereka memutuskan: Muhammad SAW harus dibunuh, atau diusir dari Makkah atau ditahan hingga meninggal dunia, karena mereka terlalu benci dengan agama yang didakwahkan, dan terlalu cinta dengan agama mereka yang menyembah berhala.

Maka orang hebat adalah yang bisa mengendalikan sombong, dengki dan ambisi. Dan orang jahat adalah yang tidak bisa mengendalikan sombong, dengki dan ambisi. Dalam kitab Kanzul-Ummal (كنز العمال – (ج 3 / ص 525) dijelaskan:

إِياَّكُمْ وَالْكِبْرَ ، فَاِنَّ اِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ عَلَى أَنْ لاَ يَسْجُدَ لِآدَمَ ، وَإِياَّكُمْ وَالْحِرْصَ فَاِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ وَإِياَّكُمْ وَالْحَسَدَ ، فَاِنَّ ابْنَيْ آدَمَ إِنَّماَ قَتَلَ أَحَدُهُماَ صاَحِبَهُ حَسَداً ، فَهُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ. (ابن عساكر عن ابن مسعود).


Artinya:
Jauhilah kesombongan! Karena kesombongan telah mendorong Iblis untuk tidak mau bersujud pada adam AS. Jauhilah ambisi! Karena ambisilah yang telah mendorong Adam untuk makan buah syajarah. Dan jauhilah dengki! Karena sungguh anak Adam telah membunuh pada sahabatnya (yakni saudaranya) karena dengki. Maka sungguh tiga itu sumber segala kesalahan. [HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud).

Ijinkanlah Aku Mendampinginya di Akhirat


Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”


Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

Seorang Istri Lupa Wajah Suaminya

 
Finding Husband adalah kisah seorang istri yang lupa wajah suaminya sendiri, kok bisa? Hehe.. kisah kocak ini adalah kisah nyata seorang muslimah di kota Bogor.Yuk dibaca...

Hari ini adalah 9 hari pernikahan gue… hahaha bayangin aja gue yang urakan kayak gini ternyata dapet suami yang macho. Subhanallah bangetz… Solehnya dan pengertiannya, gak da yang nandingin deh.

Berhubung status gue yang masih mahasiswa tingkat akhir di kota Bogor, so….mesti relain dah berpisah sama akang untuk satu minggu. Ya selain  gue lagi nyelesein tugas akhir, akang yang seorang jurnalis juga mesti ngejar berita tentang kunjungan Presiden negaraku tercinta Indonesia ke negaranya David Bekam… eh Becham ding! Kita berdua mesti sabar, baruuuu aja nikah dua hari udah kepisah jarak dan waktuuuuu …. yaelah lebai.

Tapi well, akhirnya hari itupun berakhir. Hari ini yayangku pulang dari London. Dan yang paling so sweeeeet… Akang pengertian banget. Tahu gue lagi riweuh dia gak mau gue jemput di Bandara, doi bilang “jemput aja akang di stasiun bogor”. Akang ni sebenernya bukan orang sunda, doi orang Sulawesi, orang Bugis tepatnya. Gue yang orang sunda dengan spontan saat hari pertama kita nikah, dia gue panggil akang. Mulanya dia ketawa karena belum ada yang pernah panggil dia gitu. Tapi apapun akan akang lakukan demi kebahagian gue, istri tercintanya hehehe…

Kita sebelumnya gak pernah kenal dan baru ketemu 5 kali, pertama saat MR gue dan MR nya mempertemukan kami di sebuah mesjid di Kota Bogor, kedua saat dia datang melamar ke rumah, ketiga saat akad nikah, keempat dan kelima yaitu dua hari setelah pernikahan. Hahahaha kocak. Dia usianya emang lebih tua dari gue sih, mmmm…. kalo gak salah 10 tahun. So, gak kaget deh dia suka perhatian.

Tapi lemotnya gue, gue istri yang kagak guna. Selama doi pergi dan gue sibuk sama tugas akhir, gue lupa nyimpen fotonya dia, semua foto pernikahan pun ketinggalan di kampung. Helloooo ni zaman udah modern kaleee, iye tapi gue ubek-ubek Fb dan twitternya doi, tetep aja gue gak nemuin fotonya. Maklum orangnya juga gak narsis, so yang banyak di FB nya hanyalah foto-foto liputannya.

Dengan berbekal memiliki no Hp nya, gue yakin pasti bisa ngenalin wajah teduh suami gue. Bismillah…

Hari ini gue beda dari biasanya, hahaha temen-temen kemaren ngajarin gue dandan, so hari ini gue dandan abis-abisan tapi gak menor juga. Ya…. melaksanakan sunnah Rasul lah kawan. Di angkot, gue udah senyam-senyum serta dag-dig-dug serrr mau ketemu yayang. Tiba-tiba ada sms mampir ke HP….Taraaaa!!! Gue buka inbox ternyata dari akang.

“Yang, aku masih dikereta nih, baru di stasiun  Cilebut. Maaf ya kalau kamu udah di stasiun ^^”

Waduh gimana nih, gue lagi kejebak macet sekarang, masih dalam angkot kadal (kampus dalam) pula. Harus cepet-cepet bales sms dan minta maaf nih. And Whaaaaaaaaaaaaaat… Hp gue mati,,,, Ya Karim gue lupa nge-charger Hp semalam. Mampus dah gue…

Satu jam kemudian gue tiba di stasiun, ngos-ngosan karena lari-lari mencari akang, tapi gue bener-bener lupa sama wajah suami gue, terus Hp gue juga mati. Ya Allah…berharap suami gue nyapa duluan gitu atau ngeliat duluan….

Ya Allah gimana nih, gue tengok kanan tengok kiri di stasiun tidak ada tanda-tanda kehidupan akang, hehehe …

Sekitar tiga puluh menit gue di stasiun, dan sampai saat itu pun gue gak nemuin suami gue. Ya iyalah orang lupa. Gue duduk lunglai di kursi stasiun, dan mulai putus asa. Malu rasanya dengan kebegoan gue yang lemot nginget wajah orang, suami sendiri lagi. Kan kalau gue bilang ke orang atau polisi, gue pasti bakal diketawain, masa gitu penganten baru lupa muka pasangannya.

Tepat disamping gue ada seorang cowok yang lagi tidur sambil memegang dua buah teh kotak yang bikin gue ngiler. Hehehe karena gue suka banget minum teh kotak. Ni orang tidur anteng banget, pake headset trus tidur di tengah-tengah keramaian kayak gini. Gue jadi inget diri gue sendiri yang mudah ngantuk juga di tempat mana pun. Sejenak gue liatin… nih orang jangan-jangan si akang, tapi tetep aja ngebleng di otak, gue kucek-kucek mata, tetep aja gak kebayang wajah akang.

Tiba-tiba aja orang samping gue terbangun, dia kaget melihat gue dan tersenyum manis getooo. Gue yang malu karena kepergok lagi ngepoin orang langsung minta maaf.

“maaf, maaf… maaf ya, maaf saya gak sopan. Saya lagi cari orang soalnya, saya kira mas orang yang saya cari….” gue minta maaf dengan membrondong kata maaf sama tuh cowok.

Tuh cowok malah mengernyitkan dahinya, dan langsung tersenyum ramah.

“Iya mbak gapapa. Emang mbak lagi nyari siapa?” Tanyanya, yeee ni orang malah yang ngepoin gue.

“su…eh…. orang yang baru pulang dari London” aduh hampir aja keceplosan, bisa diketawain gue kalau gue lagi nyari suami gue sendiri di stasiun.

“saudara mbak?” dia balik nanya.

“Hehehe, aduh mas susah saya ungkapkan dengan kata-kata” ngelesssss yang pinter biar gak keliatan bloon.

“Oh…”

“Eh nih saya punya teh kotak, mbak mau?” tiba-tiba banget nih orang nawarin teh kotak yang gue sukai, tapi gue inget pesan nyokap katanya kalau di tempat umum jangan gampang nerima makanan atau minuman dari orang yang gak kita kenal, tahu-tahu itu udah dikasih obat bius atau semacamnya, trus gue ntar pingsan dan gue dirampok ma orang itu, atau gue diculik….haaaaah My God jangan dong gue kan belum ketemu akang, masa ntar tragis banget di koran “Seorang Istri Jurnalis, mati mengenaskan di Stasiun” waaaaah gak banget… imajinasi gue yang terlalu ngalir kadang juga lebai. Sebisa mungkin gue tolak dengan halus tanpa menyinggung masnya.

“mmmm makasih mas, saya lagi gak haus. Silahkan buat mas saja” tak lupa tersenyum manis agar masnya gak tersungging eh tersinggung.

“mbak gak coba menghubungi orang yang mbak cari, siapa tahu saja ternyata orang yang mbak cari sudah pulang”

OMG. Iya juga ya, karena akang kelamaan nunggu, akang pulang duluan gitu ke rumah, mungkin aja kan, lagian gue kan gak bisa dihubungi karena Hp lagi mati.

“mbak… mbak….” cowok itu mengibaskan tangannya ke depan muka gue yang lagi bengong.

“Eh iya mas…”

“mbak, sudah coba hubungi belum orang yang mbak cari?” tanyanya lagi padaku

“mmmm…Hp saya mati jadi gak bisa hubungi dia”

Cowok itu membuka ransel, mengambil Hp dan menyodorkannya pada gue. “Nih mbak, saya pinjamkan Hp saya. Mbak hafal nomor Hp orang yang mbak cari gak?

Nomor HP…. Ahaaa!!! Aku ingat nomor Hp akang, maklum karena kurang kerjaan kalau ngelamun, ya ngafalin nomor Hpnya.

“Oh iya, saya hafal nomor Hpnya”

“berapa mbak nomor Hpnya biar saya ketikin”

Ya ampun nih cowok, mau ketikin segala, dipikirnya gue kagak bisa apa ngetik sendiri…

“0812xxxxxxxx”

Dia memberikan Hpnya…

“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk” yaaaa sibuk… tambah lemes deh

“Nih mas, terima kasih. Orangnya gak bisa saya hubungi”

Saat melihat Hp ni cowok gue jadi inget sesuatu….

“Oh iya, Hp mas setipe sama Hp saya deh. Mas bawa chargeran Hp gak?” Ngarep banget gue…

“Bawa mbak. Boleh, silahkan mbak pinjam.” Dia kembali mengambil barang dari ranselnya dan memberikan chargeran Hpnya.

Tanpa pikir panjang gue langsung tengok kiri-kanan mencari sumber listrik.

“Mas, saya pinjam bentar ya chargerannya. Mas masih lamakan disini?”

Cowok itu tersenyum dan mengacungkan jempolnya, tanda iya.

Gue langsung lari mencari sumber listrik di stasiun ini, daaaaaaan akhirnya gue dapet colokan sumber listrik di sebuah warung penjual donat alias “Dunkin Donuts”.

Ckckckck, seumur hidup baru ke dunkin donuts Cuma buat nyarjer Hp. Tanpa pikir panjang gue langsung colokin tuh chargeran ke colokan, setelah satu menit gue hidupin Hp.

Waaaaaa…. banyak banget SMS yang membrendel Hp gue dari dua nomor. Nomor akang dan nomor operator yang mengabarkan bahwa gue barusan dihubungi oleh nomor akang. Huhuhu akang maafin istrimu yang dodol ini, pasti akang sekarang juga lagi bingung nyariin….

Segera gue telpon suami gue tercinta.

“Tuuuuuuut…. Asalamualaikum” suara ngebass suami gue terdengar. Haduh gue makin merasa bersalah.

“Walaikumsalam, akaaang……” gue gak bisa meneruskan kata-kata gue karena malu.

“Halo… Ria sayang, kamu dimana dek?”

“akang aku…. aku…. akang dimana??? Maafin aku kang ….” nangis bombai gue karena merasa berdosa membuat suami gue menunggu.

“Dek, kamu kenapa nangis? Akang masih di satsiun nih, nungguin adek”

Haaaaaaah….. OMG ternyata akang masih ada di stasiun. Gue langsung nyari sesosok cowok yang lagi nelpon diluar Dunkin Donuts… aduuuuuh terlalu banyak orang di stasiun.

“akaaaaang… akang maafin aku, akang dimana? Aku segera jemput akang nih”

“Tut tut tut tut” bunyi Hp dimatikan. Huaaaaaa jangan-jangan akang marah, jadi matiin Hpnya. Gue lemes tak berdaya, dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Tiba-tiba sebuah teh kotak disodorkan ke samping gue.

Gue kesel amat nih sama pelayan dunkin donuts, gak tahu apa orang lagi sedih.

“Maaf mbak saya gak pesen teh kotak” jawab gue ketus.

Kok pelayannya diem. Gue menoleh kepada orang yang memberikan gue teh kotak, eh ternyata bukan pelayan tapi cowok yang gue pinjem chargerannya. Mungkin dia mau ambil chargerannya kali ya.

“Eh mas maaf, ini chargerannya mau diambil ya” gue langsung mencabut chargeran dari colokan sumber listrik dan menggulungnya.

“Akang ada di depan kamu sayang….”

Whaaaaaat !!!! ni orang berani banget…. eh tapi tunggu maksudnya apa, gue mengernyitkan dahi bingung dengan apa yang dikatakan cowok pemilik chargeran.

“Maksud lo?” dengan spontan gue nanya. Dia mengernyitkan dahinya.

“Maria Ulfa, ini akang. Pria yang nikahin Ria sembilan hari yang lalu” jawabannya mantap sambil tersenyum.

Gue melongo dan salting, sumpah gue masih gak percaya, apa iya cowok depan gue akang. Parah bangeeeeeeeeeeet.

“Hari ini akang masih maafin kamu karena kamu lupa wajah akang, tapi satu hal yang harus kamu inget….. Insya Allah akang gak akan lupa sama wajah polos istri akang tersayang hehehehe”

Air mata gue berderai tak tertahan… gue bener-bener malu, jadi selama beberapa menit yang lalu gue kelihatan banget begonya depan suami gue sendiri.

“Diminum Teh Kotaknya, waktu akang baca CV kamu, katanya minuman kesukaan kamu teh kotak kan?”

Huaaaaaaaaaa… tambah malu gue, dia bisa inget apa yang jadi kesukaan gue, sedangkan gue sama wajah suami gue sendiri aja lupa.

“Akang…. aku…” pipiku memerah seketika menahan malu.

“Sebelum pulang kita makan donat dulu ya disini” tangan akang mencubit pipi merahku

Nabi Musa dan Yusya AS

Yusya adalah Yosua.
Nauf termasuk tabiin yang menurut beberapa riwayat pernah mendapat marah dari Ibnu Abbas RA karena salah menjelaskan tentang Nabi Musa AS. Ibnu Ischaq menyitir penjelasan Sa’id bin jubair, “Saya pernah berada di sisi Ibnu Abbas; ada sejumlah kaum ahli kitab yang berada di sisi beliau. [1] Sebagian mereka bertanya ‘ya Aba Abbas[2], sungguh Nauf yakin bahwa dia pernah mendapat pelajaran dari Kaeb Al-Achbar[3]: sebenarnya Nabi Musa AS yang mencari ilmu (ke hadirat Nabi Khadhir AS) adalah Musa bin Misya bin Afraim bin Yusuf AS’.”[4] 

Bukhari meriwayatkan:

أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ نَوْفًا الْبَكَالِيَّ يَزْعُمُ أَنَّ مُوسَى لَيْسَ بِمُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنَّمَا هُوَ مُوسَى آخَرُ فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ اللَّهِ حَدَّثَنَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مُوسَى النَّبِيُّ خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ فَقَالَ أَنَا أَعْلَمُ فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ بِهِ فَقِيلَ لَهُ احْمِلْ حُوتًا فِي مِكْتَلٍ فَإِذَا فَقَدْتَهُ فَهُوَ ثَمَّ فَانْطَلَقَ وَانْطَلَقَ بِفَتَاهُ يُوشَعَ بْنِ نُونٍ وَحَمَلَا حُوتًا فِي مِكْتَلٍ حَتَّى كَانَا عِنْدَ الصَّخْرَةِ وَضَعَا رُءُوسَهُمَا وَنَامَا فَانْسَلَّ الْحُوتُ مِنْ الْمِكْتَلِ { فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا } وَكَانَ لِمُوسَى وَفَتَاهُ عَجَبًا فَانْطَلَقَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِمَا وَيَوْمَهُمَا فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ { آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا } وَلَمْ يَجِدْ مُوسَى مَسًّا مِنْ النَّصَبِ حَتَّى جَاوَزَ الْمَكَانَ الَّذِي أُمِرَ بِهِ فَقَالَ لَهُ فَتَاهُ { أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ } قَالَ مُوسَى { ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا } فَلَمَّا انْتَهَيَا إِلَى الصَّخْرَةِ إِذَا رَجُلٌ مُسَجًّى بِثَوْبٍ أَوْ قَالَ تَسَجَّى بِثَوْبِهِ فَسَلَّمَ مُوسَى فَقَالَ الْخَضِرُ وَأَنَّى بِأَرْضِكَ السَّلَامُ فَقَالَ أَنَا مُوسَى فَقَالَ مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ قَالَ نَعَمْ قَالَ { هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رَشَدًا } قَالَ { إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا } يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ { قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا } فَانْطَلَقَا يَمْشِيَانِ عَلَى سَاحِلِ الْبَحْرِ لَيْسَ لَهُمَا سَفِينَةٌ فَمَرَّتْ بِهِمَا سَفِينَةٌ فَكَلَّمُوهُمْ أَنْ يَحْمِلُوهُمَا فَعُرِفَ الْخَضِرُ فَحَمَلُوهُمَا بِغَيْرِ نَوْلٍ فَجَاءَ عُصْفُورٌ فَوَقَعَ عَلَى حَرْفِ السَّفِينَةِ فَنَقَرَ نَقْرَةً أَوْ نَقْرَتَيْنِ فِي الْبَحْرِ فَقَالَ الْخَضِرُ يَا مُوسَى مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا كَنَقْرَةِ هَذَا الْعُصْفُورِ فِي الْبَحْرِ فَعَمَدَ الْخَضِرُ إِلَى لَوْحٍ مِنْ أَلْوَاحِ السَّفِينَةِ فَنَزَعَهُ فَقَالَ مُوسَى قَوْمٌ حَمَلُونَا بِغَيْرِ نَوْلٍ عَمَدْتَ إِلَى سَفِينَتِهِمْ فَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا { قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا } فَكَانَتْ الْأُولَى مِنْ مُوسَى نِسْيَانًا فَانْطَلَقَا فَإِذَا غُلَامٌ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَ الْخَضِرُ بِرَأْسِهِ مِنْ أَعْلَاهُ فَاقْتَلَعَ رَأْسَهُ بِيَدِهِ فَقَالَ مُوسَى { أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا } { قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا } قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهَذَا أَوْكَدُ { فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ } قَالَ الْخَضِرُ بِيَدِهِ فَأَقَامَهُ فَقَالَ لَهُ مُوسَى { لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ } قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتَّى يُقَصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا

Artinya:
Amer berkata, ”Said bin Jubair memberi khabar padaku ‘saya pernah berkata pada Ibnu Abbas sungguh Nauf Al-Bakali meyakini bahwa Musa yang itu bukan Musa yang dari Bani Israil. Yang benar dia adalah Nabi Musa yang lain’.”
Ibnu Abbas berkata, “Musuh Allah itu telah bohong! Saya pernah mendengar Ubay bin Kaeb menceritakan Hadits dari Nabi SAW: Nabi Musa AS pernah berdiri berkhutbah di kalangan Bani Israil. Setelah selesai, beliu ditanya manakah manusia yang paling pandai?.”
Musa berkata, “Saya.”
Tentu saja Allah menegur karena dia tidak mengembalikan ilmu pada Allah: Allah memberi wahyu sungguh di antara para hambaKu ada seorang yang lebih pandai dari pada kau, berada di pertemuan dua lautan. [5]
Musa berdoa, “Tuhan ‘bagaimana caranya agar bisa bertemu dia?’. Beliau AS dijawab ‘bawalah ikan (dalam pencarian itu). Apabila kau kehilangan ikan itu, pasti orang itu berada di situ’.”
Musa melakukan perjalanan ditemani pelayannya bernama Yusya bin Nun. [6] Bekal terpenting yang mereka bawa adalah ikan yang dimasukkan ke dalam Miktal.[7]
Perjalanan panjang mereka tak berhenti hingga mereka sampai di sisi batu besar untuk meletakkan kepala dan tidur. Tiba-tiba ikan tersebut lepas dari Miktal (wadahnya), selanjutnya memilih jalan dengan cara melobang air di laut.[8] Saat itu Musa dan pelayannya AS takjub menyaksikan keajaiban itu.[9]
Mereka berdua melanjutkan perjalanan semalam dan sesiang yang harus diselesaikan. Musa berkata pada pelayannya, di saat memasuki waktu subuh: “Datangakan sarapan kita! Sungguh kita telah menemui rasa capek karena perjalanan kita ini.”
Musa mutlak tak merasakan rasa capek sedikitpun, sebelum melewati tempat yang telah ditunjuk itu. Sontak pelayan bertanya, “Apakah tuan telah memiliki pandangan mengenai saat kita bermalam ke batu besar? Sungguh saya telah lupa pada ikan itu, dan tidak ada yang membuat saya lupa melaporkan, kecuali syaitan.”
Musa berkata, “Hilangnya ikan itulah yang selama ini kita cari.”
Sontak mereka berdua kembali, meniti bekas-bekas (kaki) mereka berdua. Perjalanan panjang yang diperkirakan memakan waktu sehari-semalam itu akhirnya sampai ke batu besar lagi. Ternyata di situ ada lelaki yang diselimuti atau berselimut kain miliknya.[10]
Musa segera mengucapkan salam padanya; namun dia bertanya, “Bagaimanakah ucapan salam di kampungmu?.”
Beliau menjawab, “Sayalah Musa.”
Khadhir bertanya, “Musa Bani israil?.”
Musa menjawab, “Betul” Lalu bertanya, “Bolehkah saya menjadi pengikut tuan dengan imbalan; tuan mengajarkan sebagian ilmu yang telah diajarkan pada tuan kepada saya?.”
Khadhir menebak, “Sungguh kau takkan mampu bersabar menyertai saya.[11] Ya Musa! Sungguh saya memiliki ilmu ajaran Allah yang tak mungkin bisa kau miliki; sedangkan kau memiliki ilmu ajaran Allah yang saya tak mungkin memilikinya.”
Musa berkata, “Kau akan menjumpai saya sebagai orang yang sabar in syaa Allah. Dan saya takkan menentang perintah demi kau.” [12]
Mereka berdua berjalan di pinggir lautan. Tak ada satupun perahu-bagus berlayar berpapasan mereka. Perjalanan yang cukup panjang itu akhirnya berhenti saat ada perahu-bagus yang minggir mendekati mereka.[13]
Mereka berbicara dengan (lima orang) pemilik perahu, agar mau membawa mereka berdua atau bertiga. [14] Akhirnya ketahuan bahwa sebetulnya seorang di antara mereka berdua atau bertiga, adalah Khadhir. Sehingga pemilik perahu tidak mau menarik ongkos.
Tiba-tiba ada burung Ushfur hinggap di pinggir perahu untuk mematuk air laut sekali atau dua kali dengan paruhnya. Khadhir berkata “Ya Musa Ilmu Allah yang kita kuasai tiada lain, kecuali hanya bagaikan air laut yang diambil dengan paruh oleh burung burung Ushfur ini.”
Tiba-tiba Khadhir sengaja menuju sebuah papan perahu, untuk membobolnya.[15] Sontak Musa berkata, “Kaum ini telah membawa kita tanpa menarik ongkos. Kau telah sengaja membobol perahu mereka untuk menenggelamkan mereka?.”[16]
Khadhir bertanya, “Bukankah telah saya katakan sungguh kau takkan mampu bersabar bersama saya?.” [17]
Musa berkata, “Jangan menindak padaku karena saya telah lupa! Dan jangan memaksakan kesulitan padaku mengenai urusanku!.”
Gertakan Musa pada Khadhir yang sebetulnya adalah pertanyaan yang pertama kali ini, karena lupa bahwa dia telah menyanggupi persyaratan menjadi pengikut Khadhir: tidak boleh bertanya sebelum dijelaskan.
Mereka berdua meneruskan perjalanan.[18] Di tengah perjalan yang lumayan jauh itu, tiba-tiba bertemu remaja, sedang bermain-main dengan sejumlah temannya.[19] Khadhir menarik rambut kepala, lalu mematahkan kepala remaja itu dengan tangannya. Sontak Musa berkata, “Kenapa kau membunuh jiwa suci tanpa sebab membunuh jiwa?.”[20]
Khadhir berkata, “Bukankah telah saya katakan padamu bahwa sungguh kau takkan mampu bersabar bersama saya?.”
Ibnu Uyainah berkata teguran Khadhir yang ini lebih ditekankan.[21]
Mereka berdua melanjutkan perjalanan (lumayan jauh). Setelah mereka berdua datang pada penduduk desa, maka minta makanan.[22][23] Namun penduduk itu tak mau memberi makanan pada mereka.[24]
Dalam perjalanan yang melelahkan dan membuat kelaparan itu tiba-tiba mereka menjumpai dinding yang bergerak akan tumbang. [25] Sontak Khadhir menggerakkan tangannya untuk menegakkan dinding itu.[26] Tak lama kemudian Musa berkata, “Kalau kau mau mestinya telah menarik upah atas jasa tersebut.”[27]
Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah memberi rahmat pada Musa. Niscaya kami telah senang kalau saat itu Musa telah bersabar hingga akhirnya Allah mengkisahkan pada kita sebagian perkara mereka berdua.”

Allah berkisah:

قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا [الكهف/78-82].

Artinya:
Khadhir berkata, “Ini perpisahan antara saya dan kau. Akan saya ceritakan padamu tentang takwil yang kamu tak mampu menahan kesabaran. Adapun perahu itu, milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Saya telah ingin mencacat perahu itu. Di depan mereka akan ada raja (هُدَدُ بْنُ بُدَدٍ (Hudad bin Budad)) yang merampas semua perahu (bagus) secara nyata. Adapun anak itu (جَيْسُورٌ (Jaisur)) punya dua orang tua yang beriman. Kami telah khawatir jika akhirnya nanti dia memaksa dua orang tuanya, agar berbuat kedurhakaan dan kekufuran. (Melalui tindakan itu) kami telah berkeinginan Tuhan mereka berdua memberi ganti pada mereka berdua (anak) yang lebih baik kesuciannya dan lebih sayang, daripada dia. Adapun tembok itu, milik dua remaja yatim di kota itu. Sejak dulu di bawah tembok itu ada simpanan milik mereka berdua.[28] Ayah mereka berdua dulunya (semasa hidup), orang shalih. Tuhanmu ingin mereka berdua (berkembang) hingga dewasa, hingga akhirnya mengeluarkan simpanan mereka berdua sebagai rahmat dari Tuhanmu. [29] Saya melakukan itu semua bukan karena ideaku. Itulah takwil yang kamu tak mampu menahan sabar.”
Talam Tajul Urus dijelaskan: Di kota Nairob wilayah Damaskus ada tempat yang pernah dipergunakan shalat, oleh Nabi Khadhir AS.

[1] Dia termasuk tabiin yang kepandaian dan keberaniannya luar biasa.
[2] Kuniyyah atau panggilan kehormatan Ibnu Abbas RA.
[3] Dia tergolong mantan alim Yahudi yang menjadi tabiin, Islam pada zaman Umar RA.
[4] Bisa jadi, dia beranggapan demikian karena Nabi Khadhir hidup sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Sedangkan jarak waktu antara Ibrahim dan Musa AS sangat lama.
[5] Dialah Nabi Khadhir yang nama sebenarnya adalah Balya bin Malakan AS.
[6] Dialah Yosua yang akhirnya menjadi nabi setelah Musa AS.
[7] Kisah kesemangatan Musa AS mencari ilmu ini diabadikan di dalam Al-Qur’an: وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا [الكهف/60، 61].

Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata pada pelayannya, “Saya takkan berhenti (berjalan) hingga sampai pada pertemuan dua lautan, atau saya akan terus (berjalan) selama se huqub (delapan tahun).”
Namun ketika sampai pada pertemuan dua lautan itu, mereka berdua lupa pada ikan mereka; ikan itu mengambil jalan di laut, dengan meninggalkan bekas lobang (air).
Dan ikan Nun itu tadinya telah dipotong sebagian. Dalam riwayat yang lain Bukhari menulis ucapan Musa AS:

لا أكلفك إلا أن تخبرني بحيث يفارقك الحوت، قال: ما كلفت كبيرا.
 
Artinya:
“Saya takkan menugaskan padamu (dalam perjalanan ini) kecuali hanya agar memberi khabar padaku, di manakah ikan ini memisahi padamu.”
Yusya menjawab, “Tuan tak memberi padaku tugas yang berat.”
[8] Dalam riwayat lain, Bukhari menjelaskan “Bentuk lobang air laut yang ditembus ikan itu; seperti ornamen.”
[9] Hanya saja saat itu mereka berdua sudah terlalu capek dan mengantuk, sudah mulai tidur.
 
[10] Allah berkisah: فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
 
Artinya:
Akhirnya mereka berdua berjumpa seorang dari hamba-hamba Kami yang telah Kami beri rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajar ilmu dari (sisi) Kami.

[11] Menurut Al-Qur’an, Khadhir juga berkata: وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
 
Artinya:
Bagaimana mungkin kau akan mampu bersabar pada yang tidak kau kuasai penjelasannya?.

[12] “Demi” di sini bukan sumpah. Saya mengartikan demi karena lam itu adalah ikhtishash. Menurut Allah: قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
 
Artinya: Khadhir berkata, “Jika kau menjadi pengikutku, jangan bertanya padaku tentang sesuatu, sebelum saya memulai menjelaskan padamu.”
Dan berdasarkan kalima ayat selanjutnya (فَانْطَلَقَا); Musa menerima persyaratan tersebut.
 
[13] Tentang itu, Bukhari meriwayatkan:
(فَأَخَذَ طَائِرٌ بِمِنْقَارِهِ مِنْ الْبَحْرِ وَقَالَ وَاللَّهِ مَا عِلْمِي وَمَا عِلْمُكَ فِي جَنْبِ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا كَمَا أَخَذَ هَذَا الطَّائِرُ بِمِنْقَارِهِ مِنْ الْبَحْرِ).
 
Artinya:
Tiba-tiba ada burung Ushfur yang mematuk air laut dengan paruhnya. Khadhir berkata “Demi Allah ilmuku dan ilmumu di sisi Allah; tiada lain kecuali hanya bagaikan air laut yang diambil oleh burung dengan paruhnya ini.”
 
[14] Tentang itu, Al-Baghawi menulis:
فقال أهل السفينة: هؤلاء لصوص وأمروهما بالخروج فقال صاحب السفينة: ما هم بلصوص ولكني أرجو وجوه الأنبياء.
 
Artinya:
Penumpang perahu berkata, “Mereka pencuri” Dan mengusir keluar; namun pemilik perahu membela, “Mereka bukan pencuri, tetapi saya yakin bahwa seperti itu wajah para Nabi.”
 
[15] Muslim meriwayatkan:
لم يفجأ [موسى] إلا والخضر قد قلع لوحا من ألواح السفينة بالقدوم
 
Artinya:
Mutlak tidak mengejutkan kepada Musa kecuali ulah Khadhir membobol papan perahu dengan kapak.
Qurthubi menulis:
عن أبي العالية: لم ير الخضر حين خرق السفينة غير موسى وكان عبدا لا تراه إلا عين من أراد الله له أن يريه، ولو رآه القوم لمنعوه من خرق السفينة
 
Artinya:
Dari Abi Aliyyah “Di saat Khadhir membobol papan perahu, mutlak tidak ada yang melihat padanya kecuali Musa. Saat itu Khadhir tidak dillihat kecuali oleh mata yang dikehendaki oleh Allah. Kalau penumpang perahu sama melihat pasti mereka telah menghalang-halangi dia dari membobol perahu.

Dia juga menulis: تفسير القرطبي - (ج 11 / ص 19)
قال ابن عباس: (لما خرق الخضر السفينة تنحى موسى ناحية، وقال في نفسه: ما كنت أصنع بمصاحبة هذا الرجل ! كنت في بني إسرائيل أتلو كتاب الله عليهم غدوة وعشية فيطيعوني ! قال له الخضر: يا موسى أتريد أن أخبرك بما حدثت به نفسك ؟ قال: نعم قال: كذا وكذا قال: صدقت، ذكره الثعلبي في كتاب (العرائس).
 
Artinya:
Ibnu Abbas berkata, “Ketika Khadhir telah membobol lantai perahu; Musa menjauh ke suatu sudut, lalu berkata di dalam hatinya ‘kenapa saya mesti menunduk-nunduk menghormat lelaki ini?’. Sebelum ini saya telah berada di pertengahan Bani Israil untuk membacakan Kitab Allah pagi dan petang pada mereka. Mereka taat padaku.”
Khadhir berkata, “Ya Musa bolehkah saya mengkhabari padamu tentang perkataan hatimu?.”
Musa menjawab “Silahkan.”
Khadhir berkata “Begini dan begini.”
Musa berkata “Kau benar.”
Ats-Tsalabi menjelaskan demikian di dalam Kitab Al-Arais.
 
Al-Baghawi menulis:
فلما لججوا البحر أخذ الخضر فأسا فخرق لوحا من السفينة.
 
Artinya:
Ketika mereka telah berlayar ke tengah laut yang dalam; Khadhir mengambil kapak untuk membobol papan perahu.

Qurthubi menulis: تفسير القرطبي - (ج 11 / ص 34)
قال كعب وغيره: كانت لعشرة إخوة من المساكين ورثوها من أبيهم خمسة زمنى، وخمسة يعملون في البحر وقيل: كانوا سبعة لكل واحد منهم زمانة ليست بالآخر وقد ذكر النقاش أسماءهم، فأما العمال منهم فأحدهم كان مجذوما، والثاني أعور، والثالث أعرج، والرابع آدر، والخامس محموما لا تنقطع عنه الحمى الدهر كله وهو أصغرهم، والخمسة الذين لا يطيقون العمل: أعمى وأصم وأخرس ومقعد ومجنون، وكان البحر الذي يعملون فيه ما بين فارس والروم، ذكره الثعلبي.
 
Artinya:
Kaeb dan lainnya berkata, “Perahu itu milik sepuluh orang miskin bersaudara, warisan dari ayah mereka. Yang lima cacat berat sejak lahir; yang lima (cacat tapi) bisa bekerja di laut.”
(Ada yang bilang, “Jumlah mereka tujuh, semua menyandang cacat yang berbeda dengan lainnya), An-Naqqasy menjelaskan nama-nama mereka. Adapun yang bisa bekerja di laut:
1. Lepra.
2. Buta sebelah.
3. Pincang.
4. Testisnya besar sebelah.
5. Menderita sakti panas sepanjang hidupnya tidak pernah sembuh. Dialah saudara termuda.
Sedangkan lima orang yang tidak mampu bekerja:
1. Buta.
2. Tuli.
3. Bisu.
4. Lumpuh.
5. Gila. Tempat kerja mereka di perbatasan laut Persia dan Romawi’,” tutur Ats-Tsalabi.
Atas dasar in, Imam Syafii berpandangan orang miskin yang pekerjaannya belum mencukupi untuk kehidupannya, masih bisa digolongkan miskin, meskipun alat yang dipergunakan bekerja lumayan baik.
 
[16] Menurut Allah, Musa juga berkata pada Khadhir AS: لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا.
 
Artinya: Niscaya sungguh kau telah melakukan sesuatu yang mungkar.
Dan karena alif istifhamnya adalah lil inkar, maka diperkirakan pertanyaan Musa ini dengan nada marah.
 
[17] Meskipun, “Aqulأَقُلْ fi’il mudhori’, di sini diartikan telah saya katakan karena ada lafalأَلَمْ sebelumnya.
[18] Yusya bin Nun mungkin ikut, mungkin disuruh pulang.
[19] Diriwayatkan, “Dia remaja paling tampan dan paling berpengaruh.”
 
[20] Dalam Al-Qur’an Allah berkisah bahwa Musa juga berkata pada Khadhir: لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا.
Artinya: Niscaya sungguh kau telah melakukan sesuatu yang dahsyat.

[21] Menurut Al-Baghawi saat itu Yusya mengikuti perjalanan mereka berdua AS:
قيل: زاد "لك" لأنه نقض العهد مرتين وفي القصة أن يوشع كان يقول لموسى يا نبي الله اذكر العهد الذي أنت عليه
 
Artinya:
Ada yang mengatakan di dalam Khadhir menegur Musa, menambahkan lafal “لَكَ” yang artinya padamu, karena Musa AS telah melanggar peraturan dua kali. Dalam kisah dijelaskan, “Saat itu Yusya berkata pada Musa AS ‘ya Nabiyyallah, ingatlah peraturan yang harus tuan laksanakan’.”

Allah berkisah dalam Al-Qur’an: قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا.
 
Artinya: Musa berkata, “Jika saya nanti telah bertanya tentang sesuatu pada kau; maka jangan lagi kau terima saya sebagai murid! Sungguh kau telah cukup alasannya dari sisi saya.”
تُصَاحِبْنِي saya artikan kau terima saya sebagai murid, berdasarkan kontek yang ada, dan memang para ahli Hadits sering mengistilahkan sahabat sebagai murid.

[22] Ibnu Katsir menulis: عن ابن سيرين أنها الأيلة وفي الحديث: "حتى إذا أتيا أهل قرية لئاما"أي: بخلاء.”
 
Artinya:
Dari Ibnu Sirin: “Sungguh desa itu bernama Ailah (zaman Nabi Dawud AS, penduduknya pernah ada yang menjadi kera). Namun ada yang meriwayatkan di dalam Hadits: Hingga ketika mereka berdua telah sampai pada penduduk desa Liaam, maksudnya karena penduduknya sama bakhil,” dan seterusnya.
Muslim meriwayatkan: فَطَافَا فِي الْمَجَالِسِ.
Artinya: Khadhir dan Musa telah keliling desa untuk masuk ke pertengahan beberapa perkumpulan.
[23] Dengan cara bertamu.
 
[24] Al-Baghawi menjelaskan: روي عن أبي هريرة قال: أطعمتهما امرأة من أهل بربر بعد أن طلبا من الرجال فلم يطعموهما فدعا لنسائهم ولعن رجالهم.
 
Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, “Yang memberi makan pada mereka berdua, seorang wanita. Itu terjadi setelah permintaan mereka pada kaum pria tidak dikabulkan. Akhirnya Musa dan Khadhir AS mendoakan baik pada kaum wanitanya dan melaknati kaum prianya.”
 
[25] Qurthubi menulis: في بعض الاخبار: إن سمك ذلك الحائط كان ثلاثين ذراعا بذراع ذلك القرن، وطوله على وجه الأرض خمسمائة ذراع، وعرضه خمسون ذراعا، فأقامه الخضر.
 
Artinya: Dalam sebagian khabar dijelaskan, “Sungguh tinggi tembok itu tigapuluh hasta-orang yang hidup pada zaman itu. Memanjang di wajah bumi limaratus hasta. Lebar limaratus hasta. Khadhir menegakkan di saat akan roboh.”
[26] Diperkirakan Musa takjub dan heran. Takjub adalah karena melihat keajaiban; sedangkan heran adalah bingung. Dua lafal ini berasal dari Bahasa Arab, hanya sepertinya pengartiannya telah bergeser.
 
[27] Diperikrakan saat itu Musa AS bergegas akan meninggalkan Khadhir, berdasarkan riwayat muslim: وَأَخَذَ بِثَوْبِهِ.
 
Artinya: Khadhir memegang pakaian Musa AS.
 
[28] كَانَ dan كُنَّا sering dipergunakan menyatakan dulu. Contoh yang كُنَّا:
(سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ).
 
Artinya:
Maha Suci yang telah menundukkan ini untuk kami. Sejak dulu kami bukan orang yang (mampu) menundukkan padanya. Dan sungguh kita akan kembali pada Tuhan kami.
 
[29] Ibnu Katsir menulis: تفسير ابن كثير - (ج 5 / ص 186)
عن نعيم العنبري -وكان من جلساء الحسن-قال: سمعت الحسن -يعني البصري-يقول في قوله: { وَكَانَ تَحْتَهُ كَنز لَهُمَا } قال: لوح من ذهب مكتوب فيه: بسم الله الرحمن الرحيم، عجبت لمن يؤمن بالقدر كيف يحزن؟ وعجبت لمن يوقن بالموت كيف يفرح؟ وعجبت لمن يعرف الدنيا وتقلبها بأهلها كيف يطمئن إليها؟ لا إله إلا الله، محمد رسول الله.
 
Artinya:
Dari Nuaim Al-Anbari yang termasuk murid Chasan Al-Bashri, “Saya pernah mendengar Chasan berkata mengenai Firman Allah dan sejak dulu di bawahnya ada simpanan milik mereka berdua: Simpanan itu adalah papan dari emas yang ditulisi dengan Nama Allah Maha pengasih Maha penyayang. Saya telah heran pada orang yang beriman dengan kodar, bagaimana mungkin dia susah. Saya telah heran pada orang yang menyadari akan mati, bagaimana mungkin dia berbahagia. Saya heran pada orang yang menyadari mengenai dunia dan bolak-baliknya terhadap ahlinya, bagaimana mungkin dia merasa puas padanya. Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, Muhammad Utusan Alloh.