Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sayidina Ali, Sahabat Yang Hebat Karena Diberkahi

 
 

Sayidina Ali RA Sangat Kuat

Di dalam kitab syarah Bukhari bernama Fathul-Bari, tulisan Ibnu Hajar: فتح الباري لابن حجر (7/ 478)

وَذكر بن إِسْحَاقَ مِنْ حَدِيثِ أَبِي رَافِعٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ عَلِيٍّ حِينَ بَعَثَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَايَتِهِ فَضَرَبَهُ رَجُلٌ مِنْ يَهُودَ فَطَرَحَ تُرْسَهُ فَتَنَاوَلَ عَلِيٌّ بَابًا كَانَ عِنْدَ الْحِصْنِ فَتَتَرَّسَ بِهِ عَنْ نَفْسِهِ حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَلَقَدْ رَأَيْتُنِي أَنَا فِي سَبْعَةٍ أَنَا ثَامِنُهُمْ نَجْهَدُ عَلَى أَنْ نَقْلِبَ ذَلِكَ الْبَابَ فَمَا نَقْلِبُهُ وَلِلْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ أَنَّ عَلِيًّا حَمَلَ الْبَابَ يَوْمَ خَيْبَرَ وَأَنَّهُ جُرِّبَ بَعْدَ ذَلِكَ فَلَمْ يَحْمِلْهُ أَرْبَعُونَ رَجُلًا وَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَنَّ السَّبْعَةَ عَالَجُوا قَلْبَهُ وَالْأَرْبَعِينَ عَالَجُوا حَمْلَهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ ظَاهِرٌ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا بِاخْتِلَافِ حَالِ الْأَبْطَالِ وَزَادَ مُسْلِمٌ فِي حَدِيثِ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ وَخَرَجَ مَرْحَبٌ فَقَالَ قَدْ عَلِمَتْ خَيْبَرُ أَنِّي مَرْحَبُ الْأَبْيَاتَ فَقَالَ عَلِيٌّ أَنَا الَّذِي سَمَّتْنِي أُمِّي حَيْدَرَهْ الْأَبْيَاتَ فَضَرَبَ رَأْسَ مَرْحَبٍ فَقَتَلَهُ فَكَانَ الْفَتْحُ عَلَى يَدَيْهِ وَكَذَا فِي حَدِيثِ بُرَيْدَةَ الَّذِي أَشَرْتُ إِلَيْهِ قَبْلُ وَخَالف ذَلِك أهل السّير فَجزم بن إِسْحَاقَ وَمُوسَى بْنُ عُقْبَةَ وَالْوَاقِدِيُّ بِأَنَّ الَّذِي قَتَلَ مَرْحَبًا هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ وَكَذَا رَوَى أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ جَابِرٍ.

Artinya:
Ibnu Ishaq menuturkan Hadits Abi Rafi, “Kami pernah keluar bersama Ali RA, ketika dia diutus oleh Rasulullah SAW, agar membawa panji nabi SAW. Dia dipukul dengan pedang oleh lelaki Yahudi. Setelah terbelah, perisainya dilemparkan. Pintu gerbang di sisi benteng diraih dengan tangan, untuk melindungi dirinya dari serangan. Hingga Allah memberi kemenangan padanya:

1. Niscaya saya benar-benar telah menyaksikan; kami berdelapan, membalik pintu gerbang tersebut, sekuat tenaga. Namun kami tidak mampu.”
2. Kitab Hakim, bersumber dari Hadits Jabir; 'Sungguh di hari Perang Khaibar, Ali RA membawa pintu gerbang. Sungguh setelah itu, pintu gerbang berkali-kali diangkat oleh empat puluh pria namun mereka tidak mampu.

Perbedaan dua kejadian ini nyata. Tidak ada perselisihan kecuali keadaan para tokoh yang melakukan.”

Muslim menambah di dalam Hadits Iyas bin Salamah dari ayahnya, “Marhab keluar untuk berkata ‘Penduduk Khaibar telah tahu', saya Marhab” Dan seterusnya.
Ali RA menjawab, “Saya yang disebut-sebut oleh ibu saya ‘hai Macan!’.” Dan seterusnya.
Ali memukul kepala untuk membunuh Marhab, dengan pedang. Kemenangan dianugrahkan oleh Allah pada Ali RA. Dalam Hadits Buraidah yang telah saya tunjuk sebelumnya, juga dijelaskan demikian. Namun sejumlah ahli sejarah menyelisihi riwayat tersebut. Ibnu Ishaq, Musa bin Uqbah, dan Al-Waqidi, memastikan, “Yang membunuh Marhab adalah Muhammad bin Maslamah.”
Ahmad meriwayatkan dengan isnad hasan dari Jabir, juga demikian.

Kesimpulannya, bahwa di dunia ini tidak ada orang yang lebih hebat / lebih sakti daripada orang yang diberkahi oleh Alloh karena ketaqwaan dan ketaatannya pada Alloh.

Mulutmu, Kemuliaan dan Kehinaanmu

 
 

Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda, “Konon ada lelaki dari umat zaman dahulu yang ahli beribadah, bernama Mauriq. Suatu hari Mauriq berdiri untuk melakukan shalat. Tiba-tiba angan-angannya melayang pada seorang wanita hingga kejantanannya menegang, terganggu kekhusukan shalatnya. Dia membatalkan shalatnya sambil marah. Dia mengambil busur untuk melepaskan talinya.
Ujung tali diikatkan pada dua testis-nya; ujung lainnya diikatkan pada dua telapak kakinya.[1] Dua kakinya dijulurkan sekuat tenaga agar dua testis-nya lepas.
(Setelah sadar), Mauriq mengambil dua sandal dan dua pakaiannya yang telah compang-camping. Dia berjalan terus (dengan kesakitan) untuk berhenti di daerah yang tak dihuni oleh manusia dan binatang.
Di situ, dia mendirikan gubuk. Dia melakukan shalat terus menerus. Setiap pagi-buta, ada bagian bumi yang membelah, untuk keluar seorang yang membawakan makanan di dalam wadah. Mauriq memakannya hingga kenyang.
Orang misterius masuk lagi kecelah bumi untuk membawa keluar minuman di dalam wadah, untuknya.
Mauriq meminumnya hingga puas.
Setelah orang misterius itu masuk kecelah; celah tanah menutup lagi, seperti semula.
Jika hari telah sore, lelaki misterius berbuat begitu lagi.
Orang-orang lewat di dekat tempat tersebut. Di malam hari, dua orang di antara mereka datang mendekat, untuk bertanya pada Mauriq ‘apa tujuan kami berdua?’.
Mauriq isarah dengan tangan, dan berkata ‘inilah tujuan kalian berdua’.
Dua lelaki itu pergi tidak jauh. Yang satu berkata ‘apa yang mendorong dia menempati tempat yang jauh dari manusia dan binatang? Mari kita tanyakan padanya agar kita tahu!’.
Mereka berdua datang dan bertanya ‘hai Abdallah! Apa yang mendorong kau menempati tempat yang jauh dari manusia dan binatang ini?’.
Mauriq menjawab ‘pergilah! Tinggalkan saya di sini!’.
Mereka berdua bersikeras tak mau pergi, dan bertanya terus padanya. Dia menjawab ‘saya mau menjelaskan pada kalian dengan syarat; yang menyembunyikan cerita ini, akan diberi kemuliaan di dunia dan akhirat oleh Allah? Sedangkan yang memberitakan cerita ini, akan dihinakan oleh Allah, di dunia dan akhirat?’.
Mereka berdua menjawab ‘ya!’.
Mauriq perintah’silahkan kalian tinggal di sini!’.
Di pagi hari, muncul seorang dari belahan bumi, membawakan makanan yang banyaknya tiga-kali lipat dari kemarin.
Mereka bertiga menikmati makanan tersebut hingga kenyang.
Si lelaki misterius memasuki celah bumi, untuk membawakan minuman sebanyak tiga-kali lipat, daripada yang kemarin.
Mereka bertiga minum hingga puas.
Si lelaki misterius memasuki celah bumi yang segera menutup lagi. Seorang dari dua lelaki berkata ‘kenapa secepat ini dia mendatangkan makanan dan minuman? Dan yang lebih aneh, dia tahu maksud tujuan kita? Ayo kita amati terus tingkah-laku dia hingga sore nanti!’.
Di sore (yang mendebarkan itu) mereka berdua dikejutkan lagi oleh munculnya seorang dari celah bumi yang membelah, membawakan makanan dan minuman seperti di waktu paginya.
Seorang dari dua lelaki itu berkata ‘kita di sini saja, hingga pagi besok!’.
Di pagi buta mereka dikejutkan lagi oleh munculnya seorang dari celah bumi yang membelah, untuk membawakan hidangan makanan dan minuman seperti biasanya.
Mereka berdua meninggalkan Mauriq sendirian di tempat yang sepi.
Yang seorang diterima sebagai pegawai kerajaan, yang bertugas menjaga pintu gerbang. Namun pangkatnya dinaikkan terus hingga akhirnya menjadi menteri khusus yang sering ngobrol dengan raja.
Yang lain kembali lagi menekuni perdagangannya seperti dulu sebelumnya.
 
Raja yang bertahta sangat benci pada orang bohong. Orang yang ketahuan bohong, maka disalib dan dibunuh.
Di malam pertemuan agung yang indah, orang-orang dekat raja bercerita, mengenai keajaiban yang pernah mereka ketahui, di hadapan raja. Dia hadir dalam pertemuan tersebut.
Setelah bercerita panjang-lebar mengenai keajaiban didengar, raja berkata ‘saya mutlak belum pernah mendengar kisah yang lebih menakjubkan daripada ini’. Lalu melanjutkan kisahnya yang menarik perhatian orang-orang dekatnya yang hadir di situ.
Lelaki itu berkata ‘saya juga punya cerita yang menakjubkan’. Lalu dia menceritakan keajaiban Mauriq yang pernah disaksikan bersama temannya di tempat yang jauh dari manusia dan binatang.
Dia (terkejut) oleh cemoohan raja, ‘saya mutlak belum pernah mendengar kebohongan yang lebih besar daripada ini’.
Dia makin terkejut ketika raja membentak ‘demi Allah kau harus mendatangkan bukti dari kebenaran kisah ini! Kalau tidak bisa! Sungguh kau akan saya salib!’.
Dia berkata ‘yang menyaksikan kebenaran kisah saya, fulan’.
Raja berkata ‘dia orang yang saya ridhoi persaksiannya. Datangkan dia kemari!’.
Ketika saksi yang ditunjuk telah datang, ditanya oleh raja ‘dia telah bercerita padaku bahwa, kalian berdua pernah pernah melihat lelaki (begini-begini)?’.
Lelaki yang didatangkan menjawab ‘Raja yang mulia! Tuan tidak tahu bahwa cerita ini bohong. Ini tidak mungkin terjadi. Dan kalau saya bercerita mengenai ini, pasti saya disalib karena kekuasaan Tuan’.
Raja berkata ‘kau telah benar dan telah berbuat baik’.
Nabi SAW bersabda ‘orang yang bisa merahasiakan (kehebatan Mauriq), diangkat sebagai orang pilihan, yang sering berbicara khusus bersama raja; orang yang satunya disalib’.”
Al-Mufaddhal bin Fadhalah (الْمُفَضَّل بْن فَضَالَة) berkata, “Bakr bin Abdillah Al-Muzani (بَكْر بْن عَبْد اللَّه الْمُزَنِيّ) mengamati lalu bertanya pada Tsumamah bin Abdillah bin Anas (ثُمَامَة بْن عَبْد اللَّه بْن أَنَس) ‘ya Abal-Mutsanna! Kau pernah mendengar kakekmu menceritakan Hadits ini dari Rasulillah?’.
Tsumamah bin Abdillah menjawab ‘betul’.”

Islam Zaman Dahulu, Dunia Dikuasai Ahlus-Sunnah

Sebelum terjadi Perang Salib satu dan seterusnya, hampir seluruh dunia dikuasai kaum Ahlus-Sunnah. Ibnu Katsir menjelaskan berkenaan dengan hal tersebut, mendasari Firman Allah dan merujuk sejarah yang ada. Hanya saja di dalam kitab tersebut tidak ada istilah Perang Salib:

“وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [النور/55] هَذاَ وَعْدٌ مِنَ اللهِ لِرَسُوْلِهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بِأَنَّهُ سَيَجْعَلُ أُمَّتَهُ خُلَفاَءَ اْلأَرْضِ، أَيْ: أَئِمَّةَ الناَّسِ وَالْوُلاَةَ عَلَيْهِمْ، وَبِهِمْ تَصْلُحُ الْبِلاَدُ، وَتَخْضَعُ لَهُمُ الْعِباَدُ، وَلَيُبَدِّلَنَّ بَعْدَ خَوْفِهِمْ مِنَ النَّاسِ أَمْناً وَحُكْماً فِيْهِمْ، وَقَدْ فَعَلَ تَباَرَكَ وَتَعاَلَى ذَلِكَ. وَلَهُ اْلحَمْدُ وَالمِنَّةُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَمُتْ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ مَكَّةَ وَخَيْبَرَ وَالْبَحْرَيْنِ، وَساَئِرَ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَأَرْضَ الْيَمَنِ بِكَماَلِهاَ. وَأَخَذَ اْلجِزْيَةَ مِنْ مَجُوْسِ هَجَرَ، وَمِنْ بَعْضِ أَطْراَفِ الشَّامِ، وَهاَداَهُ هِرَقْلُ مَلِكُ الرُّوْمِ وَصاَحِبُ مِصْرَ وَاْلإِسْكَنْدَرِيَّةِ -وَهُوَ الْمُقَوْقِسُ -وَمُلُوْكُ عُمَانَ وَالنَّجاَشِيُّ مَلِكُ الْحَبَشَةِ، الَّذِيْ تَملَّكَ بَعْدَ أَصْحَمَةَ، رَحِمَهُ اللّهُ وَأَكْرَمَهُ ثُمَّ لَمَّا مَاتَ رَسُولِ اللّهِ - صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَاخْتاَرَ اللهُ لَهُ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْكَرَامَةِ ، قاَمَ بِاْلأَمْرِ بَعْدَهُ خَلِيْفَتُهُ أَبُو بَكْرِ الصّدّيقُ، فَلَمَّ شَعَثَ ماَ وَهَى عِنْدَ مَوْتِهِ، عَلَيْهِ الصّلَاةُ وَالسّلَامُ وَأَطَّدَ جَزِيْرَةَ الْعَرَبِ وَمَهَدَهاَ، وَبَعَثَ الْجُيُوْشَ اْلإِسْلاَمِيَّةِ إِلَى بِلاَدِ فاَرِسَ صُحْبَةَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ، رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ، فَفَتَحُوْا طَرَفاً مِنْهاَ، وَقَتَلُوْا خَلْقاً مِنْ أَهْلِهاَ. وَجَيْشاً آخَرَ صُحْبَةَ أَبِيْ عُبَيْدَةَ، رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ مَعَهُ مِنَ اْلأُمَراَءِ إِلَى أَرْضِ الشَّامِ، وَثاَلِثًا صُحْبَةَ عَمْرِو بْنِ الْعاَصِ، رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ ، إِلَى بِلاَدِ مِصْرَ، فَفَتَحَ اللهُ لِلْجَيْشِ الشَّامِيِّ فِيْ أَياَّمِهِ بُصْرَى وَدِمَشْقَ وَمَخَالِيْفَهُماَ مِنْ بِلاَدِ حَوْراَنَ وَماَ وَالاَهاَ، وَتَوَفاَّهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ، وَاخْتاَرَ لَهُ ماَ عِنْدَهُ مِنَ الْكَراَمَةِ. ومَنَّ عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَأَهْلَهُ بِأَََنْ أَلْهَمَ الصِّدِّيْقَ أَنِ اسْتَخْلِفْ عُمَرَ الْفاَرُوْقَ، فَقاَمَ فِي اْلأَمْرِ بَعْدَهُ قِياَماً تَاماًّ، لَمْ يَدُرِ الْفُلْكُ بَعْدَ اْلأَنْبِياَءِ [عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ] عَلَى مِثْلِهِ، فِيْ قُوَّةِ سِيْرَتِهِ وَكَماَلِ عَدْلِهِ. وَتَمَّ فِي أَياَّمِهِ فَتْحُ الْبِلاَدِ الشاَّمِيَّةِ بِكَماَلِهاَ، وَدِياَرُ مِصْرَ إِلَى آخِرِهاَ، وَأَكْثَرُ إِقْلِيْمِ فاَرِسَ، وَكَسَّرَ كِسْرَى وَأَهاَنَهُ غاَيَةَ اْلهَواَنِ، وَتَقَهْقَرَ إِلَى أَقْصَى مَمِلَكَتِهِ، وقَصَّرَ قَيْصَرَ، وَانْتَزَعَ يَدَهُ عَنْ بِلاَدِ الشاَّمِ فَانْحاَزَ إِلَى قُسْطَنْطِيْنَةَ، وَأَنْفَقَ أَمْواَلَهُماَ فِي سَبِيْلِ اللهِ، كَماَ أَخْبَرَ بِذَلِكَ وَوَعَدَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ، عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ أَتَمُّ سَلاَمٍ وَأَزْكَى صَلاَةٍ.

Artinya:
Allah telah menjanjikan pada sebagian kalian yang telah beriman dan telah beramal shalih:
1. Niscaya sungguh Dia akan menjadikan mereka sebagai khalifah di dalam bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah pada orang-orang sebelum mereka.
2. Niscaya sungguh akan menempatkan agama milik mereka yang Dia ridhai untuk mereka.
3. Niscaya sungguh Dia akan memberi ganti rasa aman dari setelah ketakutan mereka: mereka akan menyembah-Ku dan tidak mensyirikkan-Ku pada sesuatu.
Namun barang siapa kufur setelah itu, berarti mereka itu kaum fasiq. [Qs An-Nur 55].

Ini Janji Allah untuk Rasul-Nya صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ bahwa Allah akan menjadikan umat Muhammad صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ sebagai khalifah-khalifah bumi, maksudnya panutan dan pengatur-pengatur mereka. Dan dengan perantaraan mereka, kota-kota akan menjadi baik, dan Hamba-Hamba Allah akan merendah pada mereka. Dan niscaya rasa takut mereka pada manusia, akan dirubah oleh Allah menjadi Rasa Aman, bahkan hukum akan ditentukan oleh mereka. Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى pun telah melaksanakan janji tersebut.

Dan Segala Puji dan Anugrah adalah Hak Allah. Dalam kenyataan Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ tidak meninggal dunia, sehingga Allah membantu beliau menaklukkan kota Makkah, Khaibar, Bahrain, seluruh Jazirah Arab, dan kota Yaman secara sempurna.

Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ telah menarik pajak dari pemeluk agama Majusi kota Hajar, dan sebagian pinggiran kota-kota Syam. Hiraqla raja Romawi, raja Mesir dan Iskandariyah bernama الْمُقَوْقِسُ (Al-Muqauqis), raja-raja Oman dan Najasyi, dan raja Habasyah yang bertahta setelah Ash-Chamah رَحِمَهُ اللّهُ, telah memberi Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ hadiyah kehormatan. [1]

Lalu Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ meninggal dunia, dan Allah memberi Karamah Pilihan di sisi-Nya untuk beliau, tegasnya bahwa yang berdiri untuk memegang perkara saat itu adalah khalifah beliau, Abu Bakr As-Shiddiq. [2]
Ketika Abu Bakr telah membenahi Islam yang acak-acakan setelah beliau عَلَيْهِ الصّلَاةُ وَالسّلَامُ wafat. Telah memperkokoh dan memperkuat Jazirah Arab. Dan telah mengutus:

1. Pasukan-pasukan Islam agar mengajak Islam pada beberapa penduduk kota Persia di bawah pimpinan Khalid bin Al-Walid رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ. [3] Mereka pun berhasil menaklukkan pinggiran kota Persia (Farisi). Cukup banyak penduduk yang membangkang pada Tuhan, terbunuh karena sepak terjang Khalid dan pasukannya. Akhirnya mereka banyak yang masuk Islam.

2. Pasukan-pasukan lainnya di bawah pimpinan Abu Ubidah رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ didampingi sejumlah amir menuju kota Syam.

3. Pasukan-pasukan di bawah pimpinan Amr bin Ash رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ menuju sejumlah kota di Mesir.
Allah memberi Kemenangan pada pasukan yang menuju kota Syam, di masa hayat Abu Bakr رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ. Wilayah yang ditaklukkan, Bushra, Damaskus dan sekitarnya, kota Chauran dan sekitarnya. [4] Akhirnya Allah عَزّ وَجَلّ mewafatkan dan memberikan Karamah pilihan yang di sisi-Nya untuk Abu Bakr رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ. [5]

Sebelumnya, Allah telah memberikan Anugrah pada Islam dan pemeluknya, berupa Ilham untuk Abu Bakr رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ, “Angkatlah Umar Al-Faruq sebagai khalifah!.”
Maka Umar رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ pun mengurusi perkara setelahnya, dengan kebijakan sangat sempurna.

Bahtera-bahtera setelah para Nabi عَلَيْهِمُ السَّلاَمُyang ada, mutlak tidak ada yang sehebat bahtera Umar, mengenai kuatnya langkah kebijakan dan kesempurnan keadilannya. Di hari-hari hayatnya penaklukan kota-kota Syam sangat sempurna, bahkan kota-kota Mesir hingga pinggirannya ditaklukkan. Sejumlah besar kota Farisi (Persia) juga ditaklukkan. Kerajaan Kisra dihancurkan dan dihinakan secara maksimal, hingga Raja Kisra melarikan diri ke wilayah kekuasaannya paling ujung.

Langkah selanjutnya Umar RA menghajar hingga Qaishar Romawi meninggalkan kota Syam, melarikan diri ke Qusthanthinah (Konstantinopel). [6] Harta kekayaan dua kerajaan raksasa tersebut, diinfakkan oleh Umar ke Sabilillah, sebagaimana Rasulullah عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ أَتَمُّ سَلاَمٍ وَأَزْكَى صَلاَةٍ صَلاَةٍ telah mengkhabarkan dan menjanjikan.

Kejayaan Islam Setelah Umar

Jika di zaman Umar bin Khatthab رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ saja, kejayaan Islam sudah seperti itu, apa lagi pada zaman Utsman bin Affan رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ.

Ibnu Katsir meneruskan tulisannya:

ثُمَّ لَماَّ كاَنَتِ الدَّوْلَةُ الْعُثْماَنِيَّةُ، امْتَدَّتِ الْمَماَلِيْكُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ إِلَى أَقْصَى مَشاَرِقَ اْلأَرْضِ وَمَغاَرِبَهاَ، فَفُتِحَتْ بِلاَدُ اْلمَغْرِبِ إِلَى أَقْصَى ماَ هُناَلِكَ: اْلأَنَدَلُسِ، وَقَبْرَصَ، وَبِلاَدِ الْقَيْرَوَانِ، وَبِلاَدِ سَبْتَةَ مِماَّ يَلِي الْبَحْرَ اْلمُحِيْطِ، وَمِنْ ناَحِيَةِ الْمَشْرِقِ إِلَى أَقْصَى بِلاَدِ الصِّيْنِ، وَقُتِلَ كِسْرَى، وَباَدَ مُلْكُهُ بِالْكُلِّيَّةِ. وَفُتِحَتْ مَداَئِنُ الْعِراَقِ، وَخُراَساَنُ، وَاْلأَهْواَزُ، وَقَتَلَ اْلمُسْلِمُوْنَ مِنَ التُّرْكِ مَقْتَلَةً عَظِيْمَةً جِداًّ، وَخَذَلَ اللهُ مَلِكَهُمُ اْلأَعْظَمَ خاَقاَنَ، وَجُبِيَ الْخَراَجُ مِنَ الْمَشاَرِقِ وَالْمَغاَرِبِ إِلَى حَضْرَةِ أَمِيْرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ عُثْماَنَ بْنِ عَفاَّنَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ. وَذَلِكَ بِبَرَكَةِ تِلاَوَتِهِ وَدِرَاسَتِهِ وَجَمْعِهِ اْلأُمَّةَ عَلَى حِفْظِ اْلقُرْآنِ؛ وَلِهَذاَ ثَبَتَ فِي الصَّحِيْحِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَنَّهُ قاَلَ: " إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا" فَهاَ نَحْنُ نَتَقَلَّبُ فِيْماَ وَعَدَناَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، فَنَسْأَلُ اللهَ اْلإِيْماَنَ بِهِ، وَبِرَسُوْلِهِ، وَالْقِياَمَ بِشُكْرِهِ عَلَى اْلوَجْهِ الَّذِيْ يُرْضِيْهِ عَناَّ .

Artinya:

Lalu wilayah kekuasan Daulat Utsmaniyah Islamiyah melebar ke lebih ujung Timur dan Baratnya bumi. Kota-kota Maghribi ditaklukkan, melebar hingga ke wilayah paling ujung: Andalusia, Qabrash, kota-kota Qairawan, kota-kota Sabtah dekat laut Muhith. Wilayah kekuasaan bagian Timur juga melebar hingga ke ujung negeri Cina. Sementara itu Raja Kisra dibunuh, dan berakhirlah seluruh kerajaannya. [7]

Sejumlah kota Iraq juga ditaklukkan, demikian pula kota Khurasan dan Ahwaz. Umat Islam juga memerangi bangsa Turki dengan peperangan sangat dahsyat sekali. Allah merendahkan raja terbesar mereka bernama Khaqan. Kharaj (hasil bumi dari kafir dzimmi atau dzimmah) mulai dari wilayah-wilayah Timur dan Barat bumi, disetorkan ke hadirat Utsman bin Affan رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ.

Itu karena barakah beliau, rajin membaca dan memperdalam ilmu Al-Qur’an. Beliau juga berjasa menyeragamkan Al-Qur’an untuk umat Islam.[8] Oleh karena itu, di dalam Hadits shahih telah tertulis:
“Sesungguhnya Allah telah melipatkan bumi untukku, hingga saya menyaksikan bagian Timur-timur dan Barat-barat bumi. Dan sungguh wilayah kerajaan umatku, akan sampai ke wilayah yang telah dilipatkan untukku.”

Kini kitalah yang berbolak-balik, yakni tenggelam pada Janji Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya telah menetapi janjinya. Maka kita memohon agar Allah menjadikan kita beriman pada-Nya dan pada Rasul-Nya, dan agar kita mensyukuri nikmat, agar Dia ridha pada kita.

Benarkah Pulau Sumatra Telah Dikenal Sejak Zaman Rasulullah SAW ?


Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction” yang di seminarkan November 2011 lalu.

Syed Muhammad al Naquib al Attas lahir di Bogor, 5 September 1931 adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur.

Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk sampai pada kesimpulan di atas :

Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain menyebutkan sebagai berikut:
…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda“Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin Samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (sediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu”

Dasarnya tentu sangat kuat baik secara teologis maupun secara antropologis. Menurutnya, Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As-Sumatrani, Syech Abdurrauf As-singkili yang terkenal dengan nama Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala adalah sekian diantara ulama besar Aceh yang pernah ada di zaman keemasan kesultanan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Bahkan, sekian diantara Wali Songo memiliki garis hubungan pendidikan atau lulusan (alumni) yang berguru di Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam Asia tenggara kala itu. Bahkan beberapa diantaranya ada yang memiliki hubungan keturunan dengan Aceh penyebar Islam di tanah Jawa.

Sumber wikipedia menyebutkan, bahwa asal-usul penamaan pulau "Sumatra" sendiri berasal dari keberadaaan sebuah kerajaan benama Samudera Pasai (terletak di pantai pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang. (Nicholaas Johannes Krom, De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941.) 

Kedua, berupa terma “kāfūr” yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kata ini berasal dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi. Kata “kāfūr” juga merupakan nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.

Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga karena “menutupi” bau jenazah sebelum dikubur.
Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatra.

Dengan demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut (pasai) dan dari laporan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka singgahi.

Wallohua'lam...