Allohuakbar, Guratan Ayat-Ayat Suci yang Selalu Berganti di Tubuh Ali



Ali Yakubov, bayi berusia 9 bulan, menarik perhatian warga Red October, Rusia, beberapa waktu lalu.

Sebabnya, di punggung, dagu, tangan, betis, kaki, dan perut muncul tulisan ayat-ayat Allah dan berganti-ganti.

Fenomena ini diberitakan media internasional The Telegraph. Warga lantas berbondong-bondong datang, termasuk wartawan media internasional.

Wartawan melihat pada kaki kanan Ali terdapat tulisan “Alhamdulillah”, atau segala puji bagi Allah. Awalnya, tulisan itu ditemukan di dagu.

Tulisan itu berwarna muda dan saat akan berganti, warnanya memudar. Melihat fenomena ini, petugas kesehatan setempat sempat kebingungan, mengapa tulisan itu bisa muncul.

Ali merupakan putra kedua. Madina, ibu kandung Ali mengatakan, fenomena itu tak ditemukan saat putri pertamanya lahir. 
Madina mengatakan, “Biasanya tanda-tanda itu muncul dua kali seminggu, pada hari Senin dan malam antara Kamis dan Jumat. Setelah tiga hari tulisan itu akan hilang dan berganti dengan ayat yang baru.”

“Ali selalu merasa tak enak badan saat itu terjadi. Ia menangis dan suhu tubuhnya naik."

Berdamai Dengan Takdir

Ada yang berangan-angan, “Seandainya, aku punya ini, pasti bahagia sekali.”

Ada juga yang berangan-angan, “Seandainya dia mau jadi istriku, betapa bahagia.”

Itulah angan-angan manusia, tidak bisa disamakan. Padahal letaknya bahagia ada pada rasa atau hati.

Kalau kita sudah ridho terhadap qodar yang Allah sodorkan pada diri kita, ya kita bahagia.

Dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda:

1. “Hindari barang-barang haram! Kau akan menjadi orang yang ibadahnya mengalahkan yang lain!
 

2. Ridholah pada yang ditentukan untukmu, oleh Allah! Kau akan menjadi lebih kayanya Manusia!
 

3. Berbuat baiklah pada tetangamu! Kau akan menjadi orang iman (yang sempurna)!
 

4. Cintai Manusia! Seperti kau mencintai dirimu! Kau akan jadi orang Islam (yang sempurna)!
 

5. Jangan banyak tertawa! Karena banyak tertawa, mematikan hati!.”

" BACALAH INI 2 MENIT SAJA "

Seorang mandor bangunan yg berada di lt 5 ingin memanggil pekerjanya yg sdg bekerja di bawah.
Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.
Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000- yg jatuh tepat di sebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tsb dan melanjutkan pekerjaannya.
Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.
Cerita tersebut di atas serupa dengan kehidupan kita, اَللّهُ selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita.
Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kpd NYA...
Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang,
Bahkan kita selalu bilang...
kita lagi "HOKI!"
Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik اَللّهُ
Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yg kita sebut musibah..!
agar kita mau menoleh kepada-NYA...
Sungguh اَللّهُ sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada NYA. Sehingga tak perlu lagi lemparkan batu kecil lagi saat IA rindu dan ingin berkomunikasi dgn kita...
Semoga bermanfaat

Kaos Kaki Sobek Sang Milliarder

Al-Kisah seorang kaya raya (Milyader), sedang sakit parah..menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya.
Beliau berwasiat: Anak-anaku...jika ayah sudah dipanggil yang Maha Kuasa, ada permintaan ayah kepada kalian "tolong di pakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun kaos kaki itu sudah robek, ayah ingin pake barang kesayangan semasa bekerja di kantor ayah dan minta kenangan kaos kaki itu dipake bila ayah dikubur nanti. 

Singkat cerita Akhirnya sang Ayah meninggal dunia. Saat mengurus Jenazah dan saat mengkafani, anak2nya minta ke pak modin untuk memakaikan kaus kaki yg robek itu sesuai wasiat ayahnya. Akan tetapi pak modin menolaknya: "maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dipakaikan kepada mayat..". Terjadi diskusi panas antara anak2 yg ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak modin yg juga ustad yg melarangnya. 

Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris. Beliau menyampaikan: "sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka ber-sama2 siapa tahu ada petunjuk.." 

Maka dibukalah surat wasiat alm milyader buat anak2nya yg di titipkan kepada Notaris tersebut. Ini bunyinya: Anak-anaku pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaus kaki robek kepada mayat ayah...lihatlah anak2ku padahal harta ayah banyak, uang berlimpah, beberapa mobil mewah, tanah dan sawah di-mana2, rumah mewah banyak..tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati. Bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yg ikhlas. Anak2ku inilah yg ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dg dunia yg sementara. Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah....Semoga mengingatkan k

Instant Message Dari "Langit"

Jadi Orang Sakti

Silahkan kamu sebut dirimu hebat / sakti dan ndak perlu ibadah2an segala, cukup jika kamu bisa menguasai 5 macam ilmu ini saja:

1. Mengetahui dengan pasti tentang Hari Kiamat
2. Menurunkan hujan
3. Mengetahui dengan pasti apa yang ada dalam rahim
4. Mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi padamu besok.
5. Mengetahui dengan pasti di bumi mana kamu akan mati


( QS. Lukman : 34 )

Sombong, Dengki dan Ambisi

Sombong, dengki dan ambisi, sangat berpengaruh dalam kehidupan. Ada lelaki pendiam yang baik hati telah membunuh seorang karena dendam yang bertumpuk-tumpuk.

Kaum Quraisy menganiaya nabi SAW dan para sahabatnya dalam waktu lebih dari sepuluh tahun. Puncaknya tokoh-tokoh mereka bermusyawarah di gedung yang diberi nama Darunnadwah. Dalam musyawarah itu mereka memutuskan: Muhammad SAW harus dibunuh, atau diusir dari Makkah atau ditahan hingga meninggal dunia, karena mereka terlalu benci dengan agama yang didakwahkan, dan terlalu cinta dengan agama mereka yang menyembah berhala.

Maka orang hebat adalah yang bisa mengendalikan sombong, dengki dan ambisi. Dan orang jahat adalah yang tidak bisa mengendalikan sombong, dengki dan ambisi. Dalam kitab Kanzul-Ummal (كنز العمال – (ج 3 / ص 525) dijelaskan:

إِياَّكُمْ وَالْكِبْرَ ، فَاِنَّ اِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ عَلَى أَنْ لاَ يَسْجُدَ لِآدَمَ ، وَإِياَّكُمْ وَالْحِرْصَ فَاِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ وَإِياَّكُمْ وَالْحَسَدَ ، فَاِنَّ ابْنَيْ آدَمَ إِنَّماَ قَتَلَ أَحَدُهُماَ صاَحِبَهُ حَسَداً ، فَهُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ. (ابن عساكر عن ابن مسعود).


Artinya:
Jauhilah kesombongan! Karena kesombongan telah mendorong Iblis untuk tidak mau bersujud pada adam AS. Jauhilah ambisi! Karena ambisilah yang telah mendorong Adam untuk makan buah syajarah. Dan jauhilah dengki! Karena sungguh anak Adam telah membunuh pada sahabatnya (yakni saudaranya) karena dengki. Maka sungguh tiga itu sumber segala kesalahan. [HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud).

Bukan Urusan Saya...!!!

Hehe....akhir2 ini banyak menjumpai orang sewot dan galau gara2 "Si Bukan Urusan Saya".., baik di dunia nyata atau pun di dunia maya ( sosmed dan temen2nya...), biar adem ayem, ingat2 saja hadist ini :

"Barangsiapa di antara kalian menjumpai pagi dalam keadaan sehat wal afiat badannya, aman dalam perjalanannya, dan memiliki makanan untuk hari ini saja, maka seakan-akan dunia ini menjadi miliknya". (HR. Tirmidzi dan Ibnu majah)...adem kan..?

FujiFilm XM-1

FujiFilm XM-1: Fujifilm X-M1, merupakan kamera mirrorless interchangeable lens dengan ukuran yang sangat kecil dan ringan. Bahkan, kamera ini lebih kecil dibandingkan pendahulunya, X-10, dan X20. Namun, ukuran bodi yang kecil bukan berarti X-M1 kehilangan taringnya. Justru sebaliknya, Fujifilm X-M1 seolah membawa angin segar bagi para penggemar seri X dari Fujifilm.

Ya, kamera berbodi retro ini memang dirancang untuk mobilitas tinggi. Dalam hal ini, sangat cocok menemani perjalanan wisata atau traveling Anda. 

X-M1 telah dilengkapi dengan konektivitas Wi-Fi yang akan sangat membantu Anda untuk langsung berbagi foto ke sosial media, web, email, dan situs berbagi foto yang bertebaran di internet.

Selain itu, di bagian belakang Fujifilm X-m1, terdapat layar LCD dengan resolusi 920.000 titik. Menariknya, X-M1 memelopori inovasi baru di keluarga seri X Fujifilm, dengan layar LCD yang memungkinkan untuk tilt-up 120°dan tilt-down 80°. Dengan demikian, Anda dapat merekam gambar, dari sisi yang unik, bahkan dari sudut ekstrim sekali pun.

Berbicara masalah kinerja, Fujifilm X-M1 yang dilengkapi resolusi sebesar 16,3 Megapixel itu, mampu bersaing dengan pendahulunya, X-Pro1 dan X-E1. 

Sebagai kamera mirrorless yang paling mungil dari jajaran Fujifilm seri X tersebut, kualitasnya boleh diperhitungkan. Kecepatan dalam merekam, ketajaman gambar, akurasi warna, serta efektifnya ISO benar-benar berkelas.

Sama seperti jajaran seri X terdahulu, untuk menjaga kulitas gambar yang dihasilkan, Fujifilm menanamkan prosesor EXR II seperti yang terdapat pada X-Pro1 dan Fuji X-E1. Hal tersebut membuat kamera ini mampu bekerja semakin cepat dengan shutter lag 0,05 detik, dan maksimal kecepatan burst secara kontinyu sampai dengan 5.6 frame per detik untuk maksimum 30 gambar. 

Satu hal yang juga patut diapresiasi adalah kinerja ISO. Fujifilm X-M1 yang menawarkan rentang ISO 100 (L), 200-25.600 (H) itu, kinerjanya cukup baik. Pada ISO besar seperti 12.800, noise mampu ditekan tanpa mengurangi detil di area tengah foto. Begitu pun halnya dengan detil yang berkurang di bagian tepi tidak terlalu signifikan. Saat digunakan memotret dalam kondisi minim cahaya sekali pun, Fujifilm X-M1 mampu memberikan hasil yang baik. 

Seiring dirilisnya Fujifilm X-M1, Fujifilm juga memperkenalkan lensa pancake Fujinon XF 27mm Super EBC f2.8 dan lensa zoom Fujinon XC 16-50mm Super EBC f3.5-5.6 OIS (setara 24mm-76mm) yang dipadukan sebagai lensa kit untuk X-M1.

Lensa XC16-50mm tersebut dibangun dengan 12 elemen optik kaca, aspherical, dan ED. Kecepatan membaca fokus terasa sangat optimal dengan motor berpresisi tinggi, ditambah dengan Optik Image Stabilizer yang terdapat pada lensa ini. 

FUJIFILM X-M1
Sensor / Resolusi: Sensor CMOS APS-C 1X-Trans,
16 Megapixel
ISO: 200 - 25.600
Shutter: 30-1/4000
Lensa Kit: 27mm dan 16-50mm
(24-76mm eq.)
Auto Focus Contrast Detection: Area (49 areas in 7 x 7 grid), Multi; Changeable size of AF frame; Single AF, Continuous AF, Tracking AF, Manual Focus
Layar: LCD 920,000 dots tilts 120° ke atas dan 80° ke bawah
Konemtivitas: Built-in Wi-Fi for image transfer to smartphone, tablet or PC
Dimensi: 117 x 67 x 39 mm



Temukan di sini : http://zocko.it/LGpWc

Portable Scanner : The Skypix TSN410

Portable Scanner: The Skypix TSN410 adalah scanner digital cordless genggam, yang langsung dapat mendigitalkan semua potongan koran, kartu nama, dan tanda terima. Mampu menangkap penuh warna 600dpi gambar resolusi ke kartu memori micro SD, scanner portabel genggam ini membantu kartu untuk memudahkan pengambilan. Dengan desain yang portabel dan mudah digunakan, itu benar-benar scanner digital indah untuk pilihan.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LGpVW

Ijinkanlah Aku Mendampinginya di Akhirat


Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”


Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

Seorang Istri Lupa Wajah Suaminya

 
Finding Husband adalah kisah seorang istri yang lupa wajah suaminya sendiri, kok bisa? Hehe.. kisah kocak ini adalah kisah nyata seorang muslimah di kota Bogor.Yuk dibaca...

Hari ini adalah 9 hari pernikahan gue… hahaha bayangin aja gue yang urakan kayak gini ternyata dapet suami yang macho. Subhanallah bangetz… Solehnya dan pengertiannya, gak da yang nandingin deh.

Berhubung status gue yang masih mahasiswa tingkat akhir di kota Bogor, so….mesti relain dah berpisah sama akang untuk satu minggu. Ya selain  gue lagi nyelesein tugas akhir, akang yang seorang jurnalis juga mesti ngejar berita tentang kunjungan Presiden negaraku tercinta Indonesia ke negaranya David Bekam… eh Becham ding! Kita berdua mesti sabar, baruuuu aja nikah dua hari udah kepisah jarak dan waktuuuuu …. yaelah lebai.

Tapi well, akhirnya hari itupun berakhir. Hari ini yayangku pulang dari London. Dan yang paling so sweeeeet… Akang pengertian banget. Tahu gue lagi riweuh dia gak mau gue jemput di Bandara, doi bilang “jemput aja akang di stasiun bogor”. Akang ni sebenernya bukan orang sunda, doi orang Sulawesi, orang Bugis tepatnya. Gue yang orang sunda dengan spontan saat hari pertama kita nikah, dia gue panggil akang. Mulanya dia ketawa karena belum ada yang pernah panggil dia gitu. Tapi apapun akan akang lakukan demi kebahagian gue, istri tercintanya hehehe…

Kita sebelumnya gak pernah kenal dan baru ketemu 5 kali, pertama saat MR gue dan MR nya mempertemukan kami di sebuah mesjid di Kota Bogor, kedua saat dia datang melamar ke rumah, ketiga saat akad nikah, keempat dan kelima yaitu dua hari setelah pernikahan. Hahahaha kocak. Dia usianya emang lebih tua dari gue sih, mmmm…. kalo gak salah 10 tahun. So, gak kaget deh dia suka perhatian.

Tapi lemotnya gue, gue istri yang kagak guna. Selama doi pergi dan gue sibuk sama tugas akhir, gue lupa nyimpen fotonya dia, semua foto pernikahan pun ketinggalan di kampung. Helloooo ni zaman udah modern kaleee, iye tapi gue ubek-ubek Fb dan twitternya doi, tetep aja gue gak nemuin fotonya. Maklum orangnya juga gak narsis, so yang banyak di FB nya hanyalah foto-foto liputannya.

Dengan berbekal memiliki no Hp nya, gue yakin pasti bisa ngenalin wajah teduh suami gue. Bismillah…

Hari ini gue beda dari biasanya, hahaha temen-temen kemaren ngajarin gue dandan, so hari ini gue dandan abis-abisan tapi gak menor juga. Ya…. melaksanakan sunnah Rasul lah kawan. Di angkot, gue udah senyam-senyum serta dag-dig-dug serrr mau ketemu yayang. Tiba-tiba ada sms mampir ke HP….Taraaaa!!! Gue buka inbox ternyata dari akang.

“Yang, aku masih dikereta nih, baru di stasiun  Cilebut. Maaf ya kalau kamu udah di stasiun ^^”

Waduh gimana nih, gue lagi kejebak macet sekarang, masih dalam angkot kadal (kampus dalam) pula. Harus cepet-cepet bales sms dan minta maaf nih. And Whaaaaaaaaaaaaaat… Hp gue mati,,,, Ya Karim gue lupa nge-charger Hp semalam. Mampus dah gue…

Satu jam kemudian gue tiba di stasiun, ngos-ngosan karena lari-lari mencari akang, tapi gue bener-bener lupa sama wajah suami gue, terus Hp gue juga mati. Ya Allah…berharap suami gue nyapa duluan gitu atau ngeliat duluan….

Ya Allah gimana nih, gue tengok kanan tengok kiri di stasiun tidak ada tanda-tanda kehidupan akang, hehehe …

Sekitar tiga puluh menit gue di stasiun, dan sampai saat itu pun gue gak nemuin suami gue. Ya iyalah orang lupa. Gue duduk lunglai di kursi stasiun, dan mulai putus asa. Malu rasanya dengan kebegoan gue yang lemot nginget wajah orang, suami sendiri lagi. Kan kalau gue bilang ke orang atau polisi, gue pasti bakal diketawain, masa gitu penganten baru lupa muka pasangannya.

Tepat disamping gue ada seorang cowok yang lagi tidur sambil memegang dua buah teh kotak yang bikin gue ngiler. Hehehe karena gue suka banget minum teh kotak. Ni orang tidur anteng banget, pake headset trus tidur di tengah-tengah keramaian kayak gini. Gue jadi inget diri gue sendiri yang mudah ngantuk juga di tempat mana pun. Sejenak gue liatin… nih orang jangan-jangan si akang, tapi tetep aja ngebleng di otak, gue kucek-kucek mata, tetep aja gak kebayang wajah akang.

Tiba-tiba aja orang samping gue terbangun, dia kaget melihat gue dan tersenyum manis getooo. Gue yang malu karena kepergok lagi ngepoin orang langsung minta maaf.

“maaf, maaf… maaf ya, maaf saya gak sopan. Saya lagi cari orang soalnya, saya kira mas orang yang saya cari….” gue minta maaf dengan membrondong kata maaf sama tuh cowok.

Tuh cowok malah mengernyitkan dahinya, dan langsung tersenyum ramah.

“Iya mbak gapapa. Emang mbak lagi nyari siapa?” Tanyanya, yeee ni orang malah yang ngepoin gue.

“su…eh…. orang yang baru pulang dari London” aduh hampir aja keceplosan, bisa diketawain gue kalau gue lagi nyari suami gue sendiri di stasiun.

“saudara mbak?” dia balik nanya.

“Hehehe, aduh mas susah saya ungkapkan dengan kata-kata” ngelesssss yang pinter biar gak keliatan bloon.

“Oh…”

“Eh nih saya punya teh kotak, mbak mau?” tiba-tiba banget nih orang nawarin teh kotak yang gue sukai, tapi gue inget pesan nyokap katanya kalau di tempat umum jangan gampang nerima makanan atau minuman dari orang yang gak kita kenal, tahu-tahu itu udah dikasih obat bius atau semacamnya, trus gue ntar pingsan dan gue dirampok ma orang itu, atau gue diculik….haaaaah My God jangan dong gue kan belum ketemu akang, masa ntar tragis banget di koran “Seorang Istri Jurnalis, mati mengenaskan di Stasiun” waaaaah gak banget… imajinasi gue yang terlalu ngalir kadang juga lebai. Sebisa mungkin gue tolak dengan halus tanpa menyinggung masnya.

“mmmm makasih mas, saya lagi gak haus. Silahkan buat mas saja” tak lupa tersenyum manis agar masnya gak tersungging eh tersinggung.

“mbak gak coba menghubungi orang yang mbak cari, siapa tahu saja ternyata orang yang mbak cari sudah pulang”

OMG. Iya juga ya, karena akang kelamaan nunggu, akang pulang duluan gitu ke rumah, mungkin aja kan, lagian gue kan gak bisa dihubungi karena Hp lagi mati.

“mbak… mbak….” cowok itu mengibaskan tangannya ke depan muka gue yang lagi bengong.

“Eh iya mas…”

“mbak, sudah coba hubungi belum orang yang mbak cari?” tanyanya lagi padaku

“mmmm…Hp saya mati jadi gak bisa hubungi dia”

Cowok itu membuka ransel, mengambil Hp dan menyodorkannya pada gue. “Nih mbak, saya pinjamkan Hp saya. Mbak hafal nomor Hp orang yang mbak cari gak?

Nomor HP…. Ahaaa!!! Aku ingat nomor Hp akang, maklum karena kurang kerjaan kalau ngelamun, ya ngafalin nomor Hpnya.

“Oh iya, saya hafal nomor Hpnya”

“berapa mbak nomor Hpnya biar saya ketikin”

Ya ampun nih cowok, mau ketikin segala, dipikirnya gue kagak bisa apa ngetik sendiri…

“0812xxxxxxxx”

Dia memberikan Hpnya…

“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk” yaaaa sibuk… tambah lemes deh

“Nih mas, terima kasih. Orangnya gak bisa saya hubungi”

Saat melihat Hp ni cowok gue jadi inget sesuatu….

“Oh iya, Hp mas setipe sama Hp saya deh. Mas bawa chargeran Hp gak?” Ngarep banget gue…

“Bawa mbak. Boleh, silahkan mbak pinjam.” Dia kembali mengambil barang dari ranselnya dan memberikan chargeran Hpnya.

Tanpa pikir panjang gue langsung tengok kiri-kanan mencari sumber listrik.

“Mas, saya pinjam bentar ya chargerannya. Mas masih lamakan disini?”

Cowok itu tersenyum dan mengacungkan jempolnya, tanda iya.

Gue langsung lari mencari sumber listrik di stasiun ini, daaaaaaan akhirnya gue dapet colokan sumber listrik di sebuah warung penjual donat alias “Dunkin Donuts”.

Ckckckck, seumur hidup baru ke dunkin donuts Cuma buat nyarjer Hp. Tanpa pikir panjang gue langsung colokin tuh chargeran ke colokan, setelah satu menit gue hidupin Hp.

Waaaaaa…. banyak banget SMS yang membrendel Hp gue dari dua nomor. Nomor akang dan nomor operator yang mengabarkan bahwa gue barusan dihubungi oleh nomor akang. Huhuhu akang maafin istrimu yang dodol ini, pasti akang sekarang juga lagi bingung nyariin….

Segera gue telpon suami gue tercinta.

“Tuuuuuuut…. Asalamualaikum” suara ngebass suami gue terdengar. Haduh gue makin merasa bersalah.

“Walaikumsalam, akaaang……” gue gak bisa meneruskan kata-kata gue karena malu.

“Halo… Ria sayang, kamu dimana dek?”

“akang aku…. aku…. akang dimana??? Maafin aku kang ….” nangis bombai gue karena merasa berdosa membuat suami gue menunggu.

“Dek, kamu kenapa nangis? Akang masih di satsiun nih, nungguin adek”

Haaaaaaah….. OMG ternyata akang masih ada di stasiun. Gue langsung nyari sesosok cowok yang lagi nelpon diluar Dunkin Donuts… aduuuuuh terlalu banyak orang di stasiun.

“akaaaaang… akang maafin aku, akang dimana? Aku segera jemput akang nih”

“Tut tut tut tut” bunyi Hp dimatikan. Huaaaaaa jangan-jangan akang marah, jadi matiin Hpnya. Gue lemes tak berdaya, dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Tiba-tiba sebuah teh kotak disodorkan ke samping gue.

Gue kesel amat nih sama pelayan dunkin donuts, gak tahu apa orang lagi sedih.

“Maaf mbak saya gak pesen teh kotak” jawab gue ketus.

Kok pelayannya diem. Gue menoleh kepada orang yang memberikan gue teh kotak, eh ternyata bukan pelayan tapi cowok yang gue pinjem chargerannya. Mungkin dia mau ambil chargerannya kali ya.

“Eh mas maaf, ini chargerannya mau diambil ya” gue langsung mencabut chargeran dari colokan sumber listrik dan menggulungnya.

“Akang ada di depan kamu sayang….”

Whaaaaaat !!!! ni orang berani banget…. eh tapi tunggu maksudnya apa, gue mengernyitkan dahi bingung dengan apa yang dikatakan cowok pemilik chargeran.

“Maksud lo?” dengan spontan gue nanya. Dia mengernyitkan dahinya.

“Maria Ulfa, ini akang. Pria yang nikahin Ria sembilan hari yang lalu” jawabannya mantap sambil tersenyum.

Gue melongo dan salting, sumpah gue masih gak percaya, apa iya cowok depan gue akang. Parah bangeeeeeeeeeeet.

“Hari ini akang masih maafin kamu karena kamu lupa wajah akang, tapi satu hal yang harus kamu inget….. Insya Allah akang gak akan lupa sama wajah polos istri akang tersayang hehehehe”

Air mata gue berderai tak tertahan… gue bener-bener malu, jadi selama beberapa menit yang lalu gue kelihatan banget begonya depan suami gue sendiri.

“Diminum Teh Kotaknya, waktu akang baca CV kamu, katanya minuman kesukaan kamu teh kotak kan?”

Huaaaaaaaaaa… tambah malu gue, dia bisa inget apa yang jadi kesukaan gue, sedangkan gue sama wajah suami gue sendiri aja lupa.

“Akang…. aku…” pipiku memerah seketika menahan malu.

“Sebelum pulang kita makan donat dulu ya disini” tangan akang mencubit pipi merahku

Perjuangan Pohon Kurma

Pohon kurma lazim dijumpai di Timur Tengah. Dengan kondisi tanah yang kering, gersang, tandus dan kerap dihantam badai gurun yang dahsyat, hanya pohon kurma yang bisa bertahan hidup. Tak berlebihan bila pohon kurma dianggap sebagai pohon yang tahan banting.

Sebenarnya kekuatan pohon kurma ada di akar-akarnya. Petani di Timur Tengah menanam biji korma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dengan batu.

Mengapa biji itu harus ditutup dengan batu ??

Ternyata, batu tersebut memaksa pohon kurma untuk berjuang tumbuh ke atas. Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, ini justru membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon kurma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan di atasnya.

Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah. Bukankah itu prinsip kehidupan yang luar biasa..??

Kini kita tahu mengapa الله kerap mengizinkan tekanan hidup datang dalam hidup kita. Bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, tapi sebaliknya الله mengizinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar makin kuat.

Tak sekadar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol “batu masalah” yang selama ini menekan kita, dan kita keluar menjadi pemenang kehidupan.

Marilah kita semua memiliki cara pandang positif bahwa tekanan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi pemenang kehidupan.

Makalah Terindah Adalah Makalah Tuhan

Hingga kapanpun makalah terindah adalah makalah Tuhan, yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW, dengan bahasa Arab. Dan hebatnya lagi, makalah yakni Al-Qur’an itu, menyimpan jawaban segala macam pertanyaan.

Seorang muballigh mengeluh, “Saya punya murid seorang sarjana yang dosen. Dia yakin sepenuhnya bahwa, asal manusia adalah kera. Lalu berubah menjadi manusia karena evolusi.”
Jawabannya, "Sebetulnya teori evolusi itu faham dari syaitan yang dibisikkan pada kekasihnya, agar mereka mengkufuri Kekuasaan Tuhan. Kalau memahami betul pada Firman Allah dalam surat Al-Chajj ayat 5-7, pasti dia tahu bahwa teori itu salah, bahkan akan tahu bahwa:
1. Allah ada wujudNya.
2. Allah yang sedang dan akan menghidupkan yang sama mati.
3. Allah yang menqodar segala sesuatu.
4. Kiamat shughro (kecil) dan kubra (besar) pasti terjadi.
5. Allah akan mampu menghidupkan lagi pada makhluq-makhluq yang terkubur di tanah."
Pelajarilah Firman di bawah ini dengan khidmat! Berjuta-juta contoh dipilah-pilah oleh Allah, menjadi 10 macam. Kesemuanya sebagai rujukan ilmiah, mengenai 5 bahasan tersebut di atas:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (5) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (6) وَأَنَّ السَّاعَةَ آَتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ (7).

Artinya:
Hai manusia khususnya, jika kalian telah ragu-ragu tentang 'Kebangkitan', maka sungguh Kami telah mencipta kalian dari:
1), Tanah.
2), Lalu nuthfah (sperma). [1]
3), Lalu Alaqah (sperma yang telah membuahi sel telor). [2]
4), Lalu Mudhghah (gumpalan) yang dijadikan (janin) atau tidak dijadikan (janin). [3] (Ini) sebagai penjelasan Kami pada kalian.
5), Dan Kami tempatkan (janin) di dalam rahim-rahim, selama yang Kami kehendaki, hingga tempo yang ditentukan.
6), Lalu Kami keluarkan kalian sebagai bayi.
7), Lalau (Kami biarkan) agar kalian sampai dewasa kalian.
8), Sebagian kalian ada yang sedang (atau akan) dimatikan, sebagian kalian ada yang sedang (atau akan) dikembalikan pada lebih rendahnya umur. Agar kalian yang tadinya 'tahu' sesuatu, menjadi 'tidak tahu'.
9), Dan kau melihat bumi beku.
10), Namun ketika Kami telah menurunkan air atasnya; bergerak dan mengembang, dan menumbuhkan dari segala macam tanaman yang elok.
Itu (semua) karena:
1], Allah Hak (ada).
2], Sungguh Dia akan (dan sedang) menghidupkan yang sama mati.
3], Sungguh Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
4], Sesungguhnya kiamat akan datang, mengenai itu tiada keraguan sama sekali.
5], Sungguh Allah akan membangkitkan orang yang di dalam kubur.

Ada 10 benda yang dirujuk oleh Allah, (mulai dari tanah yang dibuat menjadi Nabi Adam AS, hingga tanah yang bergerak dan mengembang, dan menumbuhkan segala tanaman elok), sebagai bukti bahwa:
1. Allah ada.
2. Dan yang sedang maupun akan menghidupkan yang sama mati.
3. Dan bahwa Dia lah yang mengkodar segala-galanya.
4. Dan kiamat shugra adalah bukti bahwa 'akan adanya' kiamat kubra.
5. Dan Allah akan menghidupkan makhluq yang telah terkubur di tanah.
Kalau manusia asalnya dari kera, tentu di antara angka satu hingga sepuluh itu, ada Keranya. Karena Allah tahu yang awal dan yang akhir.
[1] Selama 40 hari di dalam rahim.
[2] Selama 40 hari di dalam rahim.
[3] Selama 40 hari di dalam rahim.

Kedahsyatan Surat Qul Hu...

Seorang mendengar rojul berkali-kali membaca, “Qul Huwalloohu Ahad.” Setelah subuh, dia datang untuk melaporkan pada Nabi SAW. Dari nada bicaranya, sepertinya dia meremehkan ‘Bacaan Surat’ yang diulang-ulang tersebut. Ternyata Nabi SAW bersabda, “Demi Zat yang diriku di TanganNya, sungguh Surat tersebut sebanding sepertiga Al-Qur’an.” [1] 

Ibnu Saed, Ibnu Dhoris, dan Abu Yala, mengeluarkan Hadits dari Anas RA:
“Dulu Nabi SAW pernah pergi ke Syam. Tiba-tiba Jibril AS turun untuk berkata ‘ya Muhammad! Sungguh Muawiyah bin Muawiyah Al-Muzani wafat. Kau pasti mau menyolati dia dengan senang?’.
Nabi bersabda ‘tentu!’.
(Setelah menggendong Nabi SAW), Jibril AS mengibaskan sayap kearah bumi. Tahu-tahu Jibril AS terbang tinggi, hingga segala sesuatu tampak mengecil dan seperti menempel bumi. Di atas, Jibril AS meletakkan singgasana, agar dipergunakan shalat ghoib oleh Nabi SAW.
Nabi bertanya ‘apa sebabnya Muawiyah mendapatkan keutamaan sehebat ini? Yang menyalati jenasahnya barisan 600.000 malaikat. Di belakangnya juga berjumlah sekian itu’.
Jibril AS menjawab ‘karena sering membaca Qul Huwalloohu Ahad. Dengan berdiri, duduk, bepergian dan tiduran, dia membaca terus Surat tersebut’.”
Di dalam Addalail, Al-Baihaqi juga mengeluarkan Hadits ini. [2]

[1] سنن أبي داود (2/ 72)
 
1461 - حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ لَهُ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ»
__________
[حكم الألباني] : صحيح.

Doa Dahsyat Urwah bin Azzubair

Hisyam bin Urwah berkisah, “Sebelum menjadi Khalifah, Umar bin Abdil-‘Aziz, pernah mendatangi ayah. Dengan terheran-heran, dia bercerita ‘semalam saya menyaksikan keajaiban. Saat itu saya sedang berbaring di atas kasur, di atas sotoh (balkon). Saya mendengar suara menggemuruh. Di saat menengok, saya yakin suara menggemuruh tersebut, derap kaki 'pasukan berkuda Asas'. Ternyata mereka barisan pasukan Syaitan berjumlah sangat banyak. Berbaris-baris sekelompok demi sekelompok. 

Mereka berkumpul di reruntuhan perumahan, di belakang rumah saya. Iblis juga datang ke sana’.
Setelah mereka berkumpul banyak, Iblis berteriak keras sekali. Hingga yang belum datang, cepat-cepat datang. Dia berteriak ‘siapa mau menggoda Urwah bin Azzubair, untuk saya?’.
Setelah menjawab ‘kami’, sekelompok Syaitan pergi untuk menggoda Urwah.
Setelah kembali, mereka berkata ‘kami tidak mampu menggoda dia sedikitpun’.
Iblis berteriak lagi, lebih keras ‘siapa sanggup menggoda Urwah, untuk saya?’.
Setelah menjawab ‘kami’, sekelompok lain, mendatangi untuk menggoda Urwah.
Dalam waktu lama, mereka baru pulang. Untuk berkata ‘kami tak mampu menggoda dia sedikitpun’.
Teriakan Iblis selanjutnya, dahsyat sekali. Tadinya saya menyangka bumi terbelah karenanya. Mereka berbondong-bondong datang, dengan cepat. Dan ditanya oleh Iblis ‘siapa yang sanggup menggoda Urwah, untuk saya!’.
Mengerikan sekali, semua menjawab ‘kami!’. Lalu mereka bergerak cepat berarak-arak, untuk mendatangi dan menggoda Urwah.
Sangat lama, mereka baru pulang. Dan melaporkan ‘kami tak mampu menggoda dia sedikitpun’.
Iblis pergi dengan marah. Diikuti oleh mereka semuanya."

Pada Umar bin Abdil-‘Aziz, Urwah berkata, "Ayah saya, Azzubair bin Al-Awwam RA’, pernah berkata; ‘saya pernah mendengar Rasulallah SAW’ bersabda ‘tak satu lelaki pun, yang berdoa dengan ini doa, di awal malam dan di awal siangnya, kecuali pasti Allah melindungi dia dari Iblis dan pasukannya:
Bismillaahir Rahmaanir Rahiimi Dzissyani ‘Adziimil-Burhaani Syadiidis Sulthaani maa syaa Allaahu kaana ‘auudzu billaahi minas Syaithaan’.”
Artinya:
Dengan Nama Allah; Maha pengasih; Maha penyayang, Pemilik kelakuan, yang Maha dahsyat penjelasanNya, Maha Dahsyat kekuasaanNya. Yang Dia kehendaki telah ada. Saya berlindung pada Allah dari Syaitan.
Tulisan Arabnya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ذِي الشَّانِ، عَظِيْمِ الْبُرْهاَنِ، شَدِيْدِ السُّلْطاَنِ ماَ شاَءَ اللهُ كاَنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ. [1]

[1] كنز العمال (2/ 664)
5017- "الزبير" عن هشام بن عروة قال: "جاء عمر بن عبد العزيز قبل أن يستخلف إلى أبي، فقال له: رأيت البارحة عجبا كنت فوق سطحي مستلقيا على فراشي، فسمعت جلبة في الطريق، فأشرفت فظننت عسكر العسس، فإذا الشياطين تجول كردوسا كردوسا حتى اجتمعوا إلى خربة خلف منزلي، قال: ثم جاء إبليس: فلما اجتمعوا هتف إبليس بصوت عال، فتسارعوا، فقال: من لي بعروة بن الزبير؟ فقالت طائفة منهم: نحن فذهبوا ورجعوا، وقالوا: ما قدرنا منه على شيء، فصاح الثانية أشد من الأولى، فقال: من لي بعروة بن الزبير؟ فقالت طائفة أخرى: نحن فذهبوا فلبثوا طويلا، ثم رجعوا، وقالوا ما قدرنا منه على شيء، فصاح الثالثة صيحة ظننت أن الأرض قد انشقت، فتسارعوا فقال: من لي بعروة بن الزبير؟ فقال جماعتهم: نحن فذهبوا فلبثوا طويلا، ثم رجعوا، فقالوا: ما قدرنا منه على شيء، فذهب إبليس مغضبا، فاتبعوه، فقال عروة بن الزبير لعمر بن عبد العزيز: حدثني أبي الزبير بن العوام، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ما من رجل يدعو بهذا الدعاء، في أول ليله وأول نهاره إلا عصمه الله من إبليس وجنوده: بسم الله الرحمن الرحيم ذي الشان، عظيم البرهان، شديد السلطان ما شاء الله كان، أعوذ بالله من الشيطان ". "كر

Memaknai Dan Merealisasikan Fathonah Atau Cerdas

Banyak yang mengartikan, “Fathonah” adalah cerdas dalam urusan perdamaian. Dalam syarah Bukhari ada lafal ‘fathintu’ yang asal katanya ‘fathonah’. Di sana ‘fathintu’ diartikan ‘saya sadar’ karena susunan kalimat yang ada. [1]

Ternyata dalam Sunan Abi Dawud, lafal fathintu’ juga dipergunakan. [2]
Dua dalil ini dan lainnya menunjukkan bahwa inti dari ajaran Islam adalah fathonah (pandai membuat suasana damai). Bukan malah gampang tersinggung atau menyinggung. Bertutur kata indah adalah Ajaran Allah dan RasulNya yang harus kita latih. Kalau menjawab orang agar ‘yang sopan dan menjaga perasaan’.

Kita tidak bisa membayangkan Kemurkaan Allah, saat dihina oleh kaum kafir. Dipastikan saat itu, Allah hampir menurunkan adzab terdahsyat, karena dihina. Tapi demi Muhammad SAW dan umatnya, Allah menjawab dengan Firman yang Maha Indah:

{ أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ () وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ () قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ () الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ () أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ () إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ () فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ () } [يس: 77 - 83].

[1] صحيح البخاري (6/ 137)
[تعليق مصطفى البغا]
[ش (لا ترفعوا. .) لا تجعلوا كلامكم عاليا أكثر من كلامه بل ينبغي أن
يكون أخفض منه. (الآية) وتتمتها {ولا تجهروا له بالقول كجهر بعضكم لبعض أن تحبط أعمالكم وأنتم لاتشعرون} . (ولا تجهروا. .) لا تنادوه بصوت مرتفع كما ينادي بعضكم بعضا. (أن تحبط. .) خشية أن تبطل أعمالكم ويذهب ثوابها. (ومنه الشاعر) أي من اشتقاق يشعرون يقال شعرت بالشيء أي فطنت له وعلمته وسمي قائل الشعر شاعرا لفطنته وعلمه].
[2] سنن أبي داود (1/ 171)
ثُمَّ فَطِنْتُ.
سنن أبي داود (1/ 171)

634 - حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ، وَيَحْيَى بْنُ الْفَضْلِ السِّجِسْتَانِيُّ، قَالُوا: حَدَّثَنَا حَاتِمٌ يَعْنِي ابْنَ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ مُجَاهِدٍ أَبُو حَزْرَةَ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ: أَتَيْنَا جَابِرًا يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سِرْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ، فَقَامَ يُصَلِّي، وَكَانَتْ عَلَيَّ بُرْدَةٌ ذَهَبْتُ أُخَالِفُ بَيْنَ طَرَفَيْهَا فَلَمْ تَبْلُغْ لِي، وَكَانَتْ لَهَا ذَبَاذِبُ فَنَكَّسْتُهَا، ثُمَّ خَالَفْتُ بَيْنَ طَرَفَيْهَا، ثُمَّ تَوَاقَصْتُ عَلَيْهَا لَا تَسْقُطُ، ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي، حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَجَاءَ ابْنُ صَخْرٍ، حَتَّى قَامَ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَنَا بِيَدَيْهِ جَمِيعًا، حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ، قَالَ: وَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمُقُنِي وَأَنَا لَا أَشْعُرُ ثُمَّ فَطِنْتُ بِهِ فَأَشَارَ إِلَيَّ أَنْ أَتَّزِرَ بِهَا فَلَمَّا فَرَغَ: رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «يَا جَابِرُ» ، قَالَ: قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «إِذَا كَانَ وَاسِعًا فَخَالِفْ بَيْنَ طَرَفَيْهِ، وَإِذَا كَانَ ضَيِّقًا فَاشْدُدْهُ عَلَى حِقْوِكَ»
__________
[حكم الألباني] : صحيح.

Nabi Musa dan Yusya AS

Yusya adalah Yosua.
Nauf termasuk tabiin yang menurut beberapa riwayat pernah mendapat marah dari Ibnu Abbas RA karena salah menjelaskan tentang Nabi Musa AS. Ibnu Ischaq menyitir penjelasan Sa’id bin jubair, “Saya pernah berada di sisi Ibnu Abbas; ada sejumlah kaum ahli kitab yang berada di sisi beliau. [1] Sebagian mereka bertanya ‘ya Aba Abbas[2], sungguh Nauf yakin bahwa dia pernah mendapat pelajaran dari Kaeb Al-Achbar[3]: sebenarnya Nabi Musa AS yang mencari ilmu (ke hadirat Nabi Khadhir AS) adalah Musa bin Misya bin Afraim bin Yusuf AS’.”[4] 

Bukhari meriwayatkan:

أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ نَوْفًا الْبَكَالِيَّ يَزْعُمُ أَنَّ مُوسَى لَيْسَ بِمُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنَّمَا هُوَ مُوسَى آخَرُ فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ اللَّهِ حَدَّثَنَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مُوسَى النَّبِيُّ خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ فَقَالَ أَنَا أَعْلَمُ فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ بِهِ فَقِيلَ لَهُ احْمِلْ حُوتًا فِي مِكْتَلٍ فَإِذَا فَقَدْتَهُ فَهُوَ ثَمَّ فَانْطَلَقَ وَانْطَلَقَ بِفَتَاهُ يُوشَعَ بْنِ نُونٍ وَحَمَلَا حُوتًا فِي مِكْتَلٍ حَتَّى كَانَا عِنْدَ الصَّخْرَةِ وَضَعَا رُءُوسَهُمَا وَنَامَا فَانْسَلَّ الْحُوتُ مِنْ الْمِكْتَلِ { فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا } وَكَانَ لِمُوسَى وَفَتَاهُ عَجَبًا فَانْطَلَقَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِمَا وَيَوْمَهُمَا فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ { آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا } وَلَمْ يَجِدْ مُوسَى مَسًّا مِنْ النَّصَبِ حَتَّى جَاوَزَ الْمَكَانَ الَّذِي أُمِرَ بِهِ فَقَالَ لَهُ فَتَاهُ { أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ } قَالَ مُوسَى { ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا } فَلَمَّا انْتَهَيَا إِلَى الصَّخْرَةِ إِذَا رَجُلٌ مُسَجًّى بِثَوْبٍ أَوْ قَالَ تَسَجَّى بِثَوْبِهِ فَسَلَّمَ مُوسَى فَقَالَ الْخَضِرُ وَأَنَّى بِأَرْضِكَ السَّلَامُ فَقَالَ أَنَا مُوسَى فَقَالَ مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ قَالَ نَعَمْ قَالَ { هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رَشَدًا } قَالَ { إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا } يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ { قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا } فَانْطَلَقَا يَمْشِيَانِ عَلَى سَاحِلِ الْبَحْرِ لَيْسَ لَهُمَا سَفِينَةٌ فَمَرَّتْ بِهِمَا سَفِينَةٌ فَكَلَّمُوهُمْ أَنْ يَحْمِلُوهُمَا فَعُرِفَ الْخَضِرُ فَحَمَلُوهُمَا بِغَيْرِ نَوْلٍ فَجَاءَ عُصْفُورٌ فَوَقَعَ عَلَى حَرْفِ السَّفِينَةِ فَنَقَرَ نَقْرَةً أَوْ نَقْرَتَيْنِ فِي الْبَحْرِ فَقَالَ الْخَضِرُ يَا مُوسَى مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا كَنَقْرَةِ هَذَا الْعُصْفُورِ فِي الْبَحْرِ فَعَمَدَ الْخَضِرُ إِلَى لَوْحٍ مِنْ أَلْوَاحِ السَّفِينَةِ فَنَزَعَهُ فَقَالَ مُوسَى قَوْمٌ حَمَلُونَا بِغَيْرِ نَوْلٍ عَمَدْتَ إِلَى سَفِينَتِهِمْ فَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا { قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا } فَكَانَتْ الْأُولَى مِنْ مُوسَى نِسْيَانًا فَانْطَلَقَا فَإِذَا غُلَامٌ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَ الْخَضِرُ بِرَأْسِهِ مِنْ أَعْلَاهُ فَاقْتَلَعَ رَأْسَهُ بِيَدِهِ فَقَالَ مُوسَى { أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا } { قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا } قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهَذَا أَوْكَدُ { فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ } قَالَ الْخَضِرُ بِيَدِهِ فَأَقَامَهُ فَقَالَ لَهُ مُوسَى { لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ } قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتَّى يُقَصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا

Artinya:
Amer berkata, ”Said bin Jubair memberi khabar padaku ‘saya pernah berkata pada Ibnu Abbas sungguh Nauf Al-Bakali meyakini bahwa Musa yang itu bukan Musa yang dari Bani Israil. Yang benar dia adalah Nabi Musa yang lain’.”
Ibnu Abbas berkata, “Musuh Allah itu telah bohong! Saya pernah mendengar Ubay bin Kaeb menceritakan Hadits dari Nabi SAW: Nabi Musa AS pernah berdiri berkhutbah di kalangan Bani Israil. Setelah selesai, beliu ditanya manakah manusia yang paling pandai?.”
Musa berkata, “Saya.”
Tentu saja Allah menegur karena dia tidak mengembalikan ilmu pada Allah: Allah memberi wahyu sungguh di antara para hambaKu ada seorang yang lebih pandai dari pada kau, berada di pertemuan dua lautan. [5]
Musa berdoa, “Tuhan ‘bagaimana caranya agar bisa bertemu dia?’. Beliau AS dijawab ‘bawalah ikan (dalam pencarian itu). Apabila kau kehilangan ikan itu, pasti orang itu berada di situ’.”
Musa melakukan perjalanan ditemani pelayannya bernama Yusya bin Nun. [6] Bekal terpenting yang mereka bawa adalah ikan yang dimasukkan ke dalam Miktal.[7]
Perjalanan panjang mereka tak berhenti hingga mereka sampai di sisi batu besar untuk meletakkan kepala dan tidur. Tiba-tiba ikan tersebut lepas dari Miktal (wadahnya), selanjutnya memilih jalan dengan cara melobang air di laut.[8] Saat itu Musa dan pelayannya AS takjub menyaksikan keajaiban itu.[9]
Mereka berdua melanjutkan perjalanan semalam dan sesiang yang harus diselesaikan. Musa berkata pada pelayannya, di saat memasuki waktu subuh: “Datangakan sarapan kita! Sungguh kita telah menemui rasa capek karena perjalanan kita ini.”
Musa mutlak tak merasakan rasa capek sedikitpun, sebelum melewati tempat yang telah ditunjuk itu. Sontak pelayan bertanya, “Apakah tuan telah memiliki pandangan mengenai saat kita bermalam ke batu besar? Sungguh saya telah lupa pada ikan itu, dan tidak ada yang membuat saya lupa melaporkan, kecuali syaitan.”
Musa berkata, “Hilangnya ikan itulah yang selama ini kita cari.”
Sontak mereka berdua kembali, meniti bekas-bekas (kaki) mereka berdua. Perjalanan panjang yang diperkirakan memakan waktu sehari-semalam itu akhirnya sampai ke batu besar lagi. Ternyata di situ ada lelaki yang diselimuti atau berselimut kain miliknya.[10]
Musa segera mengucapkan salam padanya; namun dia bertanya, “Bagaimanakah ucapan salam di kampungmu?.”
Beliau menjawab, “Sayalah Musa.”
Khadhir bertanya, “Musa Bani israil?.”
Musa menjawab, “Betul” Lalu bertanya, “Bolehkah saya menjadi pengikut tuan dengan imbalan; tuan mengajarkan sebagian ilmu yang telah diajarkan pada tuan kepada saya?.”
Khadhir menebak, “Sungguh kau takkan mampu bersabar menyertai saya.[11] Ya Musa! Sungguh saya memiliki ilmu ajaran Allah yang tak mungkin bisa kau miliki; sedangkan kau memiliki ilmu ajaran Allah yang saya tak mungkin memilikinya.”
Musa berkata, “Kau akan menjumpai saya sebagai orang yang sabar in syaa Allah. Dan saya takkan menentang perintah demi kau.” [12]
Mereka berdua berjalan di pinggir lautan. Tak ada satupun perahu-bagus berlayar berpapasan mereka. Perjalanan yang cukup panjang itu akhirnya berhenti saat ada perahu-bagus yang minggir mendekati mereka.[13]
Mereka berbicara dengan (lima orang) pemilik perahu, agar mau membawa mereka berdua atau bertiga. [14] Akhirnya ketahuan bahwa sebetulnya seorang di antara mereka berdua atau bertiga, adalah Khadhir. Sehingga pemilik perahu tidak mau menarik ongkos.
Tiba-tiba ada burung Ushfur hinggap di pinggir perahu untuk mematuk air laut sekali atau dua kali dengan paruhnya. Khadhir berkata “Ya Musa Ilmu Allah yang kita kuasai tiada lain, kecuali hanya bagaikan air laut yang diambil dengan paruh oleh burung burung Ushfur ini.”
Tiba-tiba Khadhir sengaja menuju sebuah papan perahu, untuk membobolnya.[15] Sontak Musa berkata, “Kaum ini telah membawa kita tanpa menarik ongkos. Kau telah sengaja membobol perahu mereka untuk menenggelamkan mereka?.”[16]
Khadhir bertanya, “Bukankah telah saya katakan sungguh kau takkan mampu bersabar bersama saya?.” [17]
Musa berkata, “Jangan menindak padaku karena saya telah lupa! Dan jangan memaksakan kesulitan padaku mengenai urusanku!.”
Gertakan Musa pada Khadhir yang sebetulnya adalah pertanyaan yang pertama kali ini, karena lupa bahwa dia telah menyanggupi persyaratan menjadi pengikut Khadhir: tidak boleh bertanya sebelum dijelaskan.
Mereka berdua meneruskan perjalanan.[18] Di tengah perjalan yang lumayan jauh itu, tiba-tiba bertemu remaja, sedang bermain-main dengan sejumlah temannya.[19] Khadhir menarik rambut kepala, lalu mematahkan kepala remaja itu dengan tangannya. Sontak Musa berkata, “Kenapa kau membunuh jiwa suci tanpa sebab membunuh jiwa?.”[20]
Khadhir berkata, “Bukankah telah saya katakan padamu bahwa sungguh kau takkan mampu bersabar bersama saya?.”
Ibnu Uyainah berkata teguran Khadhir yang ini lebih ditekankan.[21]
Mereka berdua melanjutkan perjalanan (lumayan jauh). Setelah mereka berdua datang pada penduduk desa, maka minta makanan.[22][23] Namun penduduk itu tak mau memberi makanan pada mereka.[24]
Dalam perjalanan yang melelahkan dan membuat kelaparan itu tiba-tiba mereka menjumpai dinding yang bergerak akan tumbang. [25] Sontak Khadhir menggerakkan tangannya untuk menegakkan dinding itu.[26] Tak lama kemudian Musa berkata, “Kalau kau mau mestinya telah menarik upah atas jasa tersebut.”[27]
Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah memberi rahmat pada Musa. Niscaya kami telah senang kalau saat itu Musa telah bersabar hingga akhirnya Allah mengkisahkan pada kita sebagian perkara mereka berdua.”

Allah berkisah:

قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا [الكهف/78-82].

Artinya:
Khadhir berkata, “Ini perpisahan antara saya dan kau. Akan saya ceritakan padamu tentang takwil yang kamu tak mampu menahan kesabaran. Adapun perahu itu, milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Saya telah ingin mencacat perahu itu. Di depan mereka akan ada raja (هُدَدُ بْنُ بُدَدٍ (Hudad bin Budad)) yang merampas semua perahu (bagus) secara nyata. Adapun anak itu (جَيْسُورٌ (Jaisur)) punya dua orang tua yang beriman. Kami telah khawatir jika akhirnya nanti dia memaksa dua orang tuanya, agar berbuat kedurhakaan dan kekufuran. (Melalui tindakan itu) kami telah berkeinginan Tuhan mereka berdua memberi ganti pada mereka berdua (anak) yang lebih baik kesuciannya dan lebih sayang, daripada dia. Adapun tembok itu, milik dua remaja yatim di kota itu. Sejak dulu di bawah tembok itu ada simpanan milik mereka berdua.[28] Ayah mereka berdua dulunya (semasa hidup), orang shalih. Tuhanmu ingin mereka berdua (berkembang) hingga dewasa, hingga akhirnya mengeluarkan simpanan mereka berdua sebagai rahmat dari Tuhanmu. [29] Saya melakukan itu semua bukan karena ideaku. Itulah takwil yang kamu tak mampu menahan sabar.”
Talam Tajul Urus dijelaskan: Di kota Nairob wilayah Damaskus ada tempat yang pernah dipergunakan shalat, oleh Nabi Khadhir AS.

[1] Dia termasuk tabiin yang kepandaian dan keberaniannya luar biasa.
[2] Kuniyyah atau panggilan kehormatan Ibnu Abbas RA.
[3] Dia tergolong mantan alim Yahudi yang menjadi tabiin, Islam pada zaman Umar RA.
[4] Bisa jadi, dia beranggapan demikian karena Nabi Khadhir hidup sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Sedangkan jarak waktu antara Ibrahim dan Musa AS sangat lama.
[5] Dialah Nabi Khadhir yang nama sebenarnya adalah Balya bin Malakan AS.
[6] Dialah Yosua yang akhirnya menjadi nabi setelah Musa AS.
[7] Kisah kesemangatan Musa AS mencari ilmu ini diabadikan di dalam Al-Qur’an: وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا [الكهف/60، 61].

Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata pada pelayannya, “Saya takkan berhenti (berjalan) hingga sampai pada pertemuan dua lautan, atau saya akan terus (berjalan) selama se huqub (delapan tahun).”
Namun ketika sampai pada pertemuan dua lautan itu, mereka berdua lupa pada ikan mereka; ikan itu mengambil jalan di laut, dengan meninggalkan bekas lobang (air).
Dan ikan Nun itu tadinya telah dipotong sebagian. Dalam riwayat yang lain Bukhari menulis ucapan Musa AS:

لا أكلفك إلا أن تخبرني بحيث يفارقك الحوت، قال: ما كلفت كبيرا.
 
Artinya:
“Saya takkan menugaskan padamu (dalam perjalanan ini) kecuali hanya agar memberi khabar padaku, di manakah ikan ini memisahi padamu.”
Yusya menjawab, “Tuan tak memberi padaku tugas yang berat.”
[8] Dalam riwayat lain, Bukhari menjelaskan “Bentuk lobang air laut yang ditembus ikan itu; seperti ornamen.”
[9] Hanya saja saat itu mereka berdua sudah terlalu capek dan mengantuk, sudah mulai tidur.
 
[10] Allah berkisah: فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
 
Artinya:
Akhirnya mereka berdua berjumpa seorang dari hamba-hamba Kami yang telah Kami beri rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajar ilmu dari (sisi) Kami.

[11] Menurut Al-Qur’an, Khadhir juga berkata: وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
 
Artinya:
Bagaimana mungkin kau akan mampu bersabar pada yang tidak kau kuasai penjelasannya?.

[12] “Demi” di sini bukan sumpah. Saya mengartikan demi karena lam itu adalah ikhtishash. Menurut Allah: قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
 
Artinya: Khadhir berkata, “Jika kau menjadi pengikutku, jangan bertanya padaku tentang sesuatu, sebelum saya memulai menjelaskan padamu.”
Dan berdasarkan kalima ayat selanjutnya (فَانْطَلَقَا); Musa menerima persyaratan tersebut.
 
[13] Tentang itu, Bukhari meriwayatkan:
(فَأَخَذَ طَائِرٌ بِمِنْقَارِهِ مِنْ الْبَحْرِ وَقَالَ وَاللَّهِ مَا عِلْمِي وَمَا عِلْمُكَ فِي جَنْبِ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا كَمَا أَخَذَ هَذَا الطَّائِرُ بِمِنْقَارِهِ مِنْ الْبَحْرِ).
 
Artinya:
Tiba-tiba ada burung Ushfur yang mematuk air laut dengan paruhnya. Khadhir berkata “Demi Allah ilmuku dan ilmumu di sisi Allah; tiada lain kecuali hanya bagaikan air laut yang diambil oleh burung dengan paruhnya ini.”
 
[14] Tentang itu, Al-Baghawi menulis:
فقال أهل السفينة: هؤلاء لصوص وأمروهما بالخروج فقال صاحب السفينة: ما هم بلصوص ولكني أرجو وجوه الأنبياء.
 
Artinya:
Penumpang perahu berkata, “Mereka pencuri” Dan mengusir keluar; namun pemilik perahu membela, “Mereka bukan pencuri, tetapi saya yakin bahwa seperti itu wajah para Nabi.”
 
[15] Muslim meriwayatkan:
لم يفجأ [موسى] إلا والخضر قد قلع لوحا من ألواح السفينة بالقدوم
 
Artinya:
Mutlak tidak mengejutkan kepada Musa kecuali ulah Khadhir membobol papan perahu dengan kapak.
Qurthubi menulis:
عن أبي العالية: لم ير الخضر حين خرق السفينة غير موسى وكان عبدا لا تراه إلا عين من أراد الله له أن يريه، ولو رآه القوم لمنعوه من خرق السفينة
 
Artinya:
Dari Abi Aliyyah “Di saat Khadhir membobol papan perahu, mutlak tidak ada yang melihat padanya kecuali Musa. Saat itu Khadhir tidak dillihat kecuali oleh mata yang dikehendaki oleh Allah. Kalau penumpang perahu sama melihat pasti mereka telah menghalang-halangi dia dari membobol perahu.

Dia juga menulis: تفسير القرطبي - (ج 11 / ص 19)
قال ابن عباس: (لما خرق الخضر السفينة تنحى موسى ناحية، وقال في نفسه: ما كنت أصنع بمصاحبة هذا الرجل ! كنت في بني إسرائيل أتلو كتاب الله عليهم غدوة وعشية فيطيعوني ! قال له الخضر: يا موسى أتريد أن أخبرك بما حدثت به نفسك ؟ قال: نعم قال: كذا وكذا قال: صدقت، ذكره الثعلبي في كتاب (العرائس).
 
Artinya:
Ibnu Abbas berkata, “Ketika Khadhir telah membobol lantai perahu; Musa menjauh ke suatu sudut, lalu berkata di dalam hatinya ‘kenapa saya mesti menunduk-nunduk menghormat lelaki ini?’. Sebelum ini saya telah berada di pertengahan Bani Israil untuk membacakan Kitab Allah pagi dan petang pada mereka. Mereka taat padaku.”
Khadhir berkata, “Ya Musa bolehkah saya mengkhabari padamu tentang perkataan hatimu?.”
Musa menjawab “Silahkan.”
Khadhir berkata “Begini dan begini.”
Musa berkata “Kau benar.”
Ats-Tsalabi menjelaskan demikian di dalam Kitab Al-Arais.
 
Al-Baghawi menulis:
فلما لججوا البحر أخذ الخضر فأسا فخرق لوحا من السفينة.
 
Artinya:
Ketika mereka telah berlayar ke tengah laut yang dalam; Khadhir mengambil kapak untuk membobol papan perahu.

Qurthubi menulis: تفسير القرطبي - (ج 11 / ص 34)
قال كعب وغيره: كانت لعشرة إخوة من المساكين ورثوها من أبيهم خمسة زمنى، وخمسة يعملون في البحر وقيل: كانوا سبعة لكل واحد منهم زمانة ليست بالآخر وقد ذكر النقاش أسماءهم، فأما العمال منهم فأحدهم كان مجذوما، والثاني أعور، والثالث أعرج، والرابع آدر، والخامس محموما لا تنقطع عنه الحمى الدهر كله وهو أصغرهم، والخمسة الذين لا يطيقون العمل: أعمى وأصم وأخرس ومقعد ومجنون، وكان البحر الذي يعملون فيه ما بين فارس والروم، ذكره الثعلبي.
 
Artinya:
Kaeb dan lainnya berkata, “Perahu itu milik sepuluh orang miskin bersaudara, warisan dari ayah mereka. Yang lima cacat berat sejak lahir; yang lima (cacat tapi) bisa bekerja di laut.”
(Ada yang bilang, “Jumlah mereka tujuh, semua menyandang cacat yang berbeda dengan lainnya), An-Naqqasy menjelaskan nama-nama mereka. Adapun yang bisa bekerja di laut:
1. Lepra.
2. Buta sebelah.
3. Pincang.
4. Testisnya besar sebelah.
5. Menderita sakti panas sepanjang hidupnya tidak pernah sembuh. Dialah saudara termuda.
Sedangkan lima orang yang tidak mampu bekerja:
1. Buta.
2. Tuli.
3. Bisu.
4. Lumpuh.
5. Gila. Tempat kerja mereka di perbatasan laut Persia dan Romawi’,” tutur Ats-Tsalabi.
Atas dasar in, Imam Syafii berpandangan orang miskin yang pekerjaannya belum mencukupi untuk kehidupannya, masih bisa digolongkan miskin, meskipun alat yang dipergunakan bekerja lumayan baik.
 
[16] Menurut Allah, Musa juga berkata pada Khadhir AS: لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا.
 
Artinya: Niscaya sungguh kau telah melakukan sesuatu yang mungkar.
Dan karena alif istifhamnya adalah lil inkar, maka diperkirakan pertanyaan Musa ini dengan nada marah.
 
[17] Meskipun, “Aqulأَقُلْ fi’il mudhori’, di sini diartikan telah saya katakan karena ada lafalأَلَمْ sebelumnya.
[18] Yusya bin Nun mungkin ikut, mungkin disuruh pulang.
[19] Diriwayatkan, “Dia remaja paling tampan dan paling berpengaruh.”
 
[20] Dalam Al-Qur’an Allah berkisah bahwa Musa juga berkata pada Khadhir: لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا.
Artinya: Niscaya sungguh kau telah melakukan sesuatu yang dahsyat.

[21] Menurut Al-Baghawi saat itu Yusya mengikuti perjalanan mereka berdua AS:
قيل: زاد "لك" لأنه نقض العهد مرتين وفي القصة أن يوشع كان يقول لموسى يا نبي الله اذكر العهد الذي أنت عليه
 
Artinya:
Ada yang mengatakan di dalam Khadhir menegur Musa, menambahkan lafal “لَكَ” yang artinya padamu, karena Musa AS telah melanggar peraturan dua kali. Dalam kisah dijelaskan, “Saat itu Yusya berkata pada Musa AS ‘ya Nabiyyallah, ingatlah peraturan yang harus tuan laksanakan’.”

Allah berkisah dalam Al-Qur’an: قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا.
 
Artinya: Musa berkata, “Jika saya nanti telah bertanya tentang sesuatu pada kau; maka jangan lagi kau terima saya sebagai murid! Sungguh kau telah cukup alasannya dari sisi saya.”
تُصَاحِبْنِي saya artikan kau terima saya sebagai murid, berdasarkan kontek yang ada, dan memang para ahli Hadits sering mengistilahkan sahabat sebagai murid.

[22] Ibnu Katsir menulis: عن ابن سيرين أنها الأيلة وفي الحديث: "حتى إذا أتيا أهل قرية لئاما"أي: بخلاء.”
 
Artinya:
Dari Ibnu Sirin: “Sungguh desa itu bernama Ailah (zaman Nabi Dawud AS, penduduknya pernah ada yang menjadi kera). Namun ada yang meriwayatkan di dalam Hadits: Hingga ketika mereka berdua telah sampai pada penduduk desa Liaam, maksudnya karena penduduknya sama bakhil,” dan seterusnya.
Muslim meriwayatkan: فَطَافَا فِي الْمَجَالِسِ.
Artinya: Khadhir dan Musa telah keliling desa untuk masuk ke pertengahan beberapa perkumpulan.
[23] Dengan cara bertamu.
 
[24] Al-Baghawi menjelaskan: روي عن أبي هريرة قال: أطعمتهما امرأة من أهل بربر بعد أن طلبا من الرجال فلم يطعموهما فدعا لنسائهم ولعن رجالهم.
 
Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, “Yang memberi makan pada mereka berdua, seorang wanita. Itu terjadi setelah permintaan mereka pada kaum pria tidak dikabulkan. Akhirnya Musa dan Khadhir AS mendoakan baik pada kaum wanitanya dan melaknati kaum prianya.”
 
[25] Qurthubi menulis: في بعض الاخبار: إن سمك ذلك الحائط كان ثلاثين ذراعا بذراع ذلك القرن، وطوله على وجه الأرض خمسمائة ذراع، وعرضه خمسون ذراعا، فأقامه الخضر.
 
Artinya: Dalam sebagian khabar dijelaskan, “Sungguh tinggi tembok itu tigapuluh hasta-orang yang hidup pada zaman itu. Memanjang di wajah bumi limaratus hasta. Lebar limaratus hasta. Khadhir menegakkan di saat akan roboh.”
[26] Diperkirakan Musa takjub dan heran. Takjub adalah karena melihat keajaiban; sedangkan heran adalah bingung. Dua lafal ini berasal dari Bahasa Arab, hanya sepertinya pengartiannya telah bergeser.
 
[27] Diperikrakan saat itu Musa AS bergegas akan meninggalkan Khadhir, berdasarkan riwayat muslim: وَأَخَذَ بِثَوْبِهِ.
 
Artinya: Khadhir memegang pakaian Musa AS.
 
[28] كَانَ dan كُنَّا sering dipergunakan menyatakan dulu. Contoh yang كُنَّا:
(سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ).
 
Artinya:
Maha Suci yang telah menundukkan ini untuk kami. Sejak dulu kami bukan orang yang (mampu) menundukkan padanya. Dan sungguh kita akan kembali pada Tuhan kami.
 
[29] Ibnu Katsir menulis: تفسير ابن كثير - (ج 5 / ص 186)
عن نعيم العنبري -وكان من جلساء الحسن-قال: سمعت الحسن -يعني البصري-يقول في قوله: { وَكَانَ تَحْتَهُ كَنز لَهُمَا } قال: لوح من ذهب مكتوب فيه: بسم الله الرحمن الرحيم، عجبت لمن يؤمن بالقدر كيف يحزن؟ وعجبت لمن يوقن بالموت كيف يفرح؟ وعجبت لمن يعرف الدنيا وتقلبها بأهلها كيف يطمئن إليها؟ لا إله إلا الله، محمد رسول الله.
 
Artinya:
Dari Nuaim Al-Anbari yang termasuk murid Chasan Al-Bashri, “Saya pernah mendengar Chasan berkata mengenai Firman Allah dan sejak dulu di bawahnya ada simpanan milik mereka berdua: Simpanan itu adalah papan dari emas yang ditulisi dengan Nama Allah Maha pengasih Maha penyayang. Saya telah heran pada orang yang beriman dengan kodar, bagaimana mungkin dia susah. Saya telah heran pada orang yang menyadari akan mati, bagaimana mungkin dia berbahagia. Saya heran pada orang yang menyadari mengenai dunia dan bolak-baliknya terhadap ahlinya, bagaimana mungkin dia merasa puas padanya. Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, Muhammad Utusan Alloh.